Selasa, 15 Maret 2011

Sekolah atau Asrama??

Heran deh. Sekolahku kok makin hari kayak asrama--" Makin ketat ajah yang namanya peraturan padahal masih timbul tenggelam alias ndak jelas!! Gertak di awal aja, tapi lama-lama 'hanyut'. Niat ndak sih bikin tata tertib~~"

Baru-baru ini disuruh wajib beli jilbab yang ditentukan dari sekolah, dari jilbab putih, abu-abu, dan coklat. Aku sih seneng-seneng aja dengernya. LHA, KOK pas tahu jilbabnya gimana jadi ilfil mbah. Abis jilbabnya pake tudung instan, ga bagus deh bentuknya. Jadi malas beli ah! Sekelas belum ada yang mau pake padahal beberapa sudah beli, tapi yaa itu ilfil ma bentuk jilbabnya! Kenapa toh ndak dibicarain dulu sama kita-kita yang notabenenya yang make alias siswi-siswinya. Masa PUTUSKAN SEPIHAK gitu++ Tidak adil. Tidak ada penerapan demokrasi. Yaaa, kalau gurunya make semua, It's OK. LHA ini siswi-siswi yg jilbaban wae yang wajib beli. TIDAK ADIL itu.

Gedung putih, gedung dengan kelas yang terbagus yang pernah aku lihat, diteralis besi. Buat apa coba? Perasaan tidak ada yang pernah kecurian deh. Enam kelas lagi yang diteralis besi-- . Sampai-sampai kakak kelas bikin status di FB, "kami lebih butuh ruang baca daripada kelas yang diteralis,". Hooo, kalau aku mah, lebih baik bangunkan kelas yang baru daripada teralis kelas-kelas bagus itu. MUBAZIR. Di depan mata, masih banyak yang lebih penting untuk di perbaiki, contohnya perpus yang numpang sama lab. biologi

KIBUL KICK sekali kalau sekolah bakal dibongkar dari depan gedung putih sampai kelas paling belakang. SEJAK 2005 didengungkan sampai sekarang. LHA nyatanya? omong kosong. mendingan yaa renovasi ajalah kelas yang ada, acara bongkar dan bangun itu ndak semudah membalikkan tangan.  kelas jg WONG masih bagus kok. Akibat dari semua itu adalah satu kelas tidak dapat kelas. Bisa dibayangkan bukan, mereka tidak dapat belajar dengan nyaman karena harus moving class dan siap-siap dimarahi jika kelas yang ditumpanginya 'ada apa-apa'. Apalagi 2 kelas sudah tak layak pakai. Untungnya masih dimanfaatkan oleh siswa-siswa kreatif, menjadikan kelas bobrok itu menjadi kelas kaca. Kelas tempat berkumpul anak-anak OSIS atau yang lainnya. Ya pastinya, dana dari Pemkot itu pastinya digunakan untuk sekolah yang lebih memerlukan dana itu. Meski setiap tahun sudah dikucurkan sesuai dengan programnya, tetep aja susah cairnya. CKCKCK.Jangan tertipu dan tergesa jadi sekolah internasional. Lumutan bertitel RSBI tak apa yang penting siswanya nyaman dan having fun buat belajar. Iya ndak seehh?=,=

Yang paling bikin aku dan teman-teman ngaong ADALAH kami tidak LIBUR. Sebuah bencana lokal yang begitu mengenaskan. KAMI TIDAK LIBUR disaat kakak-kakak kelas XII ujian. Padahal sekolah negeri lainnya LIBUR. Hiks hiks. Di saat kakak kelas UAS, kami mesti mid semester. RUAR BIASA, ngebalap mid  sekolah lain. padahal katanya sih ada surat edarannya loh dari pemkot bahwa kami libur. ISSSHHH, teman sekolah lain saja, sampai termuntah-muntah karena libur kelamaaan. HOOO kami mah malah muntah-muntah kebanyakan belajar++" Sekilas balik kebelakang, makin ngaong lemah, ketika kakak kelas try out. Malah kami adik kelasnya, liburnya digilir. Padahal seharusnya liburnya 4 hari. Dari hati terdalam kami, kami pengen sekali libur, pengen refreshing, pengen bantu-bantu ibu di rumah, pengen jalan-jalan. AMPUN DAH NI SEKOLAHKU. AKIU AMAT KECEWA. SUPER DUPER PELIT. Ya hebatnya, setelah mid semester, kami tak ada libur. POKOKNYA lanjutttt belajar. PENGEN GUE TERIAKKKKKK. LIBUR MAMEN!! Otak kami butuh refreshing. OOHHH MENGENASKAN. JANGAN sekolah di smansa yaa.. Nanti ndak ada libur (muka menghasut)

Ya, bukan mengumbar kejelekan sekolah ya. Tapi ini benar-benar isi suara hati dari siswa-siswa yang terwakilkan untuk yang butuh libur. Otak kami bukanlah komputer, yang sesukanya dimasukin data tanpa istirahat. Kalau hang bagaimana? Ribet juga kan?? 

Ayolah, bersahabatlah pada kami, siswa-siswi. Tanpa kami, sekolah tidak ada dan tak berarti. Hanya sebuah bangunan kosong tak berfungsi. Namanya bukan sekolah. Guru-guru juga sebenarnya capai masuk kerja terus, ingin libur. Sehari dua hari tanpa ngajar, pasti mereka suka. 

Aku tahu kok, kepsekku seorang perempuan yang notabenenya lembut dan tegas, tapi sayang keras kepala. Bangga di awal, kecewa di akhir. Jadi kecewa deh. Malas ketemu. Ya jeleknya kami sih, ngaongnya di belakang. Pas di depan beliau, hooo bingung mau ngomong apa. Ndak tega jadinya. HA PAYAHNYAK!

Ya, intinya aku kecewa sama perubahan di sekolahku. Tidak memihak siswa, asal mutuskan. Tidak ada usaha buat bicara sama kami atau ortu kami. Ah, payah! aku bener-bener tertekan dengan suasana sekolah kayak gini. Bagaimana membangun kebanggan pada sekolah yang depan gerbang sekolahnya layak jadi kubangan angsa?? Sedang dalamnya juga seribet benang kusut??