Selasa, 15 Maret 2011

Sekolah atau Asrama??

Heran deh. Sekolahku kok makin hari kayak asrama--" Makin ketat ajah yang namanya peraturan padahal masih timbul tenggelam alias ndak jelas!! Gertak di awal aja, tapi lama-lama 'hanyut'. Niat ndak sih bikin tata tertib~~"

Baru-baru ini disuruh wajib beli jilbab yang ditentukan dari sekolah, dari jilbab putih, abu-abu, dan coklat. Aku sih seneng-seneng aja dengernya. LHA, KOK pas tahu jilbabnya gimana jadi ilfil mbah. Abis jilbabnya pake tudung instan, ga bagus deh bentuknya. Jadi malas beli ah! Sekelas belum ada yang mau pake padahal beberapa sudah beli, tapi yaa itu ilfil ma bentuk jilbabnya! Kenapa toh ndak dibicarain dulu sama kita-kita yang notabenenya yang make alias siswi-siswinya. Masa PUTUSKAN SEPIHAK gitu++ Tidak adil. Tidak ada penerapan demokrasi. Yaaa, kalau gurunya make semua, It's OK. LHA ini siswi-siswi yg jilbaban wae yang wajib beli. TIDAK ADIL itu.

Gedung putih, gedung dengan kelas yang terbagus yang pernah aku lihat, diteralis besi. Buat apa coba? Perasaan tidak ada yang pernah kecurian deh. Enam kelas lagi yang diteralis besi-- . Sampai-sampai kakak kelas bikin status di FB, "kami lebih butuh ruang baca daripada kelas yang diteralis,". Hooo, kalau aku mah, lebih baik bangunkan kelas yang baru daripada teralis kelas-kelas bagus itu. MUBAZIR. Di depan mata, masih banyak yang lebih penting untuk di perbaiki, contohnya perpus yang numpang sama lab. biologi

KIBUL KICK sekali kalau sekolah bakal dibongkar dari depan gedung putih sampai kelas paling belakang. SEJAK 2005 didengungkan sampai sekarang. LHA nyatanya? omong kosong. mendingan yaa renovasi ajalah kelas yang ada, acara bongkar dan bangun itu ndak semudah membalikkan tangan.  kelas jg WONG masih bagus kok. Akibat dari semua itu adalah satu kelas tidak dapat kelas. Bisa dibayangkan bukan, mereka tidak dapat belajar dengan nyaman karena harus moving class dan siap-siap dimarahi jika kelas yang ditumpanginya 'ada apa-apa'. Apalagi 2 kelas sudah tak layak pakai. Untungnya masih dimanfaatkan oleh siswa-siswa kreatif, menjadikan kelas bobrok itu menjadi kelas kaca. Kelas tempat berkumpul anak-anak OSIS atau yang lainnya. Ya pastinya, dana dari Pemkot itu pastinya digunakan untuk sekolah yang lebih memerlukan dana itu. Meski setiap tahun sudah dikucurkan sesuai dengan programnya, tetep aja susah cairnya. CKCKCK.Jangan tertipu dan tergesa jadi sekolah internasional. Lumutan bertitel RSBI tak apa yang penting siswanya nyaman dan having fun buat belajar. Iya ndak seehh?=,=

Yang paling bikin aku dan teman-teman ngaong ADALAH kami tidak LIBUR. Sebuah bencana lokal yang begitu mengenaskan. KAMI TIDAK LIBUR disaat kakak-kakak kelas XII ujian. Padahal sekolah negeri lainnya LIBUR. Hiks hiks. Di saat kakak kelas UAS, kami mesti mid semester. RUAR BIASA, ngebalap mid  sekolah lain. padahal katanya sih ada surat edarannya loh dari pemkot bahwa kami libur. ISSSHHH, teman sekolah lain saja, sampai termuntah-muntah karena libur kelamaaan. HOOO kami mah malah muntah-muntah kebanyakan belajar++" Sekilas balik kebelakang, makin ngaong lemah, ketika kakak kelas try out. Malah kami adik kelasnya, liburnya digilir. Padahal seharusnya liburnya 4 hari. Dari hati terdalam kami, kami pengen sekali libur, pengen refreshing, pengen bantu-bantu ibu di rumah, pengen jalan-jalan. AMPUN DAH NI SEKOLAHKU. AKIU AMAT KECEWA. SUPER DUPER PELIT. Ya hebatnya, setelah mid semester, kami tak ada libur. POKOKNYA lanjutttt belajar. PENGEN GUE TERIAKKKKKK. LIBUR MAMEN!! Otak kami butuh refreshing. OOHHH MENGENASKAN. JANGAN sekolah di smansa yaa.. Nanti ndak ada libur (muka menghasut)

Ya, bukan mengumbar kejelekan sekolah ya. Tapi ini benar-benar isi suara hati dari siswa-siswa yang terwakilkan untuk yang butuh libur. Otak kami bukanlah komputer, yang sesukanya dimasukin data tanpa istirahat. Kalau hang bagaimana? Ribet juga kan?? 

Ayolah, bersahabatlah pada kami, siswa-siswi. Tanpa kami, sekolah tidak ada dan tak berarti. Hanya sebuah bangunan kosong tak berfungsi. Namanya bukan sekolah. Guru-guru juga sebenarnya capai masuk kerja terus, ingin libur. Sehari dua hari tanpa ngajar, pasti mereka suka. 

Aku tahu kok, kepsekku seorang perempuan yang notabenenya lembut dan tegas, tapi sayang keras kepala. Bangga di awal, kecewa di akhir. Jadi kecewa deh. Malas ketemu. Ya jeleknya kami sih, ngaongnya di belakang. Pas di depan beliau, hooo bingung mau ngomong apa. Ndak tega jadinya. HA PAYAHNYAK!

Ya, intinya aku kecewa sama perubahan di sekolahku. Tidak memihak siswa, asal mutuskan. Tidak ada usaha buat bicara sama kami atau ortu kami. Ah, payah! aku bener-bener tertekan dengan suasana sekolah kayak gini. Bagaimana membangun kebanggan pada sekolah yang depan gerbang sekolahnya layak jadi kubangan angsa?? Sedang dalamnya juga seribet benang kusut??

Senin, 03 Januari 2011

About Dating

Mengatur kapasitas cinta yang sebenarnya
"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (QS Al-Isro : 32)


Tahu nggak siih? aku itu kecewa banget sama kamu teman...

Hari itu, aku ke rumahmu. Kita berbicara seru tentang segala hal yang terjadi di sekolah. Serasa punya sahabat dekat^.^ Kita berbicara bagaimana teman2 pada pacaran dengan kakak kelas atau sebaliknya. Suatu topik yang menarik di bahas untuk usia kita. Atau membahas kegiatan yang kita ikuti yang lagi huru hara sana sini. Ketawa bareng dan serius bareng. Suasana tetap dingin bersahaja siang itu, karena terus ketiup dinginnya AC. hoho. Ngobrol tentang seseorang. Bagaimana dia berusaha menasehati teman2 kita supaya tidak pacaran. Karena pacaran itu dalam islam tidak ada kecuali setelah menikah. Jadi teman2 kita yang udah berpasangan pada takut status mereka tersebar sampai terdengar ke telinga orang itu. Hahahhaa ini takut dosa atau malah takut sama dia ya?? hehehe. Mudah-mudahan karena takut kepada Allah SWT.

Kemudian, santer terdengar di sana sini, kalau kamu pacaran. Ya setelah dia pergi jauh meninggalkan sekolah kita. Aku memang sudah perasaan dari jauh hari, bahwa cowok itu adalah si C. Tidak ada rasa cemburu di hati. Hanya rasa kecewa yang mendalam. Kata2 dulu yang kamu ucapkan untuk tetap istiqomah di jalanNya. Ketika kutanya akan kebenaran berita itu, kau menjawabnya dengan kata2 yang sangat gembira. Layaknya orang yang selalu gembira setelah punya pacar. Kemudian aku tanya si C, ternyata benar, mereka jadian. Ncuuuss deh. Aku jadi ilfill sama kalian berdua. Padahal kalian adalah teman-teman yang aku banggakan untuk tetap menjadi teman. Sekarang, mau deket sama si C jadi nggak enak, takutnya kamu cemburuan. Semua rasanya menjadi sangat terbatas. Si C yang juga terkadang bersamaku, jadi tak punya waktu untuk itu. Huuufffhh ... kan nggak enak, nggak ada yang ngelucu dan bagi ilmu. Tapi ya sudahlah. Huuffhh*meluk bantal

Nah aku punya cerita neh. Dulu pas aku mau bikin SIM A, aku ditemani sama kakak cowok. Biasalah agak jadi manja gituh deh. Jadi rameh di kantor polisi. Ketika dipanggil petugas, aku nggak denger. Terus dibentak, "Makanya jangan pacaran mulu!" sama salah satu polisi. ihh aku malu sekali. Pengen sekali bilang, "This is my brother! He's not my boyfriend, you know hah!!?". Tapi ndak jadi karena aku marah sekali jadi hanya diam cemberut abis. Enak sekali dia bilang pacaran. pacaran dari hongkong!! Sepanjang ambil SIM aku cemberut mulu, meski nama di kartu SIM A salah aku cuek. Biarin! Sampai sekarang aku muak ketemu sama polisi-polisi dodol itu. Cuuh ngapain ketemu! untung sampai sekarang nggak pernah kedapatan razia. Padahal pengen kena. Huuh bukan rezekiku mungkin. Sampai sekarang jadi males ketemu polisi!! Masih jengkel maaaaakk. Makanya sampai sekarang males jalan ma kakak cowok. Mending sama cewek atau jalan2 sendiri. ALONE

Aku tidak terbiasa dengan pacaran. Meski ortu tidak pernah melarang hal ini. Tapi aku tidak terbiasa. Aku masih ingat dengan pertanyaan Ayah kepada teman2 cewekku, "udah punya cowok belum?" ihik serasa disindir deh. Bahahahahhaaa. Mungkin juga aku dikira aneh ya, dimana sepupuku udah punya pacar dan kepergok pacaran dan dimarahi. Untung aja aku tidak demikian. Aku ingin menjaga perasaan Ayah dan Ibuku. Aku tidak rela perhatianku yang sedikit untuk mereka direnggut untuk yang lain. udah cukup heu. Apalagi om dan tanteku juga sering menggodaku tentang 'udah punya cowok belum?' -____-  isshh paling males deh. Pergi ke sekolah malah dikira mojok -___- ammpyuun beuh! Alhamdulillah sampai sekarang Ayah masih percaya denganku ketika aku pergi seharian untuk mengisi kegiatan di luar rumah. Tidak pernah ditelpon sesering mungkin hanya untuk memastikan anak gadisnya ini keluyuran ndak jelas dan berbohong. Syukurnya jarang. Ya karena Ayah telah memberi kepercayaan untukku. Dan aku harus menjaganya:)

Aku bisa merasa sangat disayangi ketika orang2 di dekatku. Entah ketika itu aku cewek sendiri. diantara cowok2, itu semua karena aku merasa dilindungi. Jadi saya bisa mendapatkan semuanya tanpa harus pacaran. Aku tahu pacaran itu tidak boleh kecuali setelah menikah. Sedih deh kalau ada yang bertengkar dan caci maki hanya karena pacaran, atau malah putus hubungan dengan mantannya. Haduh pacaran utk hidup ato hidup utk pacaran yak?? seperti di lagu, kan tidak harus memiliki toh.

Bukan merasa paling beriman, alim, dan pintar ya jadi ngomong pacaran itu ndak boleh. Memang jelas2 ndak boleh dalam islam lho. Agak iri juga ngelihat teman-teman pada punya gebetan. Tapi aku mikir, ngapain iri sama org pacaran? nehi lah yaww. Ngurus diri sendiri aja acakadut, bagi waktu aja blegedes --" Semoga Allah melindungi kita semua dari godaan syetan:) Keep istiqomah teman2. Manfaatkan waktu meraih cita-cita menuju surga:)

Waktunya mencari teman seperjuangan di jalanNya:)

Kamis, 18 November 2010

Menyukaimu...Sebenar 7 x 7 = 49 :)

But you was leaving me to soon
I'm missing your sillohuette all the time
Please don't be in love with someone else
Don't have somebody waiting on you?

Kenapa setiap aku melihat wajahku sendiri. Aku teringat suatu penyesalan. Aku salah kirim. Hmmmm

Bermula dari mengetahui nomor-nomor yang asing dan baru bagiku waktu itu. Aku pun tak sungkan bertanya ttg sesutau yang tak kumengerti. Dan terjawab. Bahagia membuncah. Aku bisa ngomong meski cenderung maya.

Kemudian keadaan yang mempertemukan dua manusia Allah. Aku biasa menghadapinya. Tapi ini membuatku malu karena aku tak berhasil. Dan ternyata seseorang telah menjelma dan tampak kejam di terpaan abu dan perakan api malam.

Malam semakin menggila. Udara menciut beberapa derajat. Aku bertarung dengan malam diantara intipan makhluk tak kasat mata. Bulan besar bentuk sabit terus menemani perjalanan malam, semakin tinggi di cakrawala langit. Hingga aku mencapai akhir dari kegelapan malam sunyi.

Di uji. Di puji. Lantunan suara dari mereka sedang kamu, mati sementara, berbadan kurus, terbaring terpejam. Aku pun menyangka. "Kau ini kebangetan ya." ohh begitu tingkahnya

Matahari menggantikan pekerjaan Bulan. Mata merah ingin terkatup namun gagal demi dengar ilmu. Aku bagai kelelawar tidur, terpejam namun jg terjaga. Dan kamu berperihal sama denganku.

Perut bernyanyi-nyanyi, tapi telah terisi. Kini kamupun berbeda juga. Aku menatap dan miris. Mondar-mandir sibuk meneliti keadaan. hey, kenapa? Kau tak malu?

Saatnya berbaring, menurut mata, dan terbang menjauh dr dunia nyata. Saat yang kusukai. Semua sudut bisa aku amati, tingkahmu yang unik itu. Kau tak malu? hmm giliranku sekarang. Kubaringkan kepala, menatap langit dan mati sementara.

Pagi! Hey, kau tetap di situ? oh ya, kau nyenyak dan tak peduli. Kau disitu, bangunlah. Kau terbangun. Lucu sekali kau! Polos! Kulihat dari jauh, jauh dari jangkauan tanganku.

Waktu melangkah dengan tegap dan tegar. Yang lain, mengalir lancar bicara yang amat maya. Biasa dan biasa. Namun kagum rupanya terus menjangkiti tubuhku. Kau ternyata begitu. Banyak yang kau ukir prestasi dengan kata dan lisan cerdasmu.

Aku tak berani memandang. Aku takut setan beraksi. Aku tak berani memandangmu.

Lirik-lirik dan salah tingkah pun berlaku. Ingin kata meluncur dengan nyata di hadapanmu. Tapi dayaku terbatas ketika sudah di hadapanmu. Tahu akan suatu hal tentangmu, memacuku untuk melakukan lebih baik sepertimu.

Seperti terjadi waktu itu. Kamu duduk tepat di seberang, tepat menghadapku diantara kerumunan kawan-kawanmu. Ow! Kenapa kau ada di situ? Mengganggu saja, rengutku sambil mengunyah es batu dan berlaku biasa. Tak bisa aku hindari, mataku rabun. Kau tertawa, senyum pun terseret. Aku ingin lihat senyum itu. Tidak bisa.

Dan kita pernah berlaku sama, makanya kata itu terperintah begitu saja. Begitu banyak tanya yang aku sampaikan. Kau memang lebih baik dariku.

Rasa merah jambu itu menjerat. Aku tak mau menjerat. Bodoh sekali! Kita kan teman, jadi bukan hakku untuk mengada-ngada. Aku tak mau begitu.

Jaga hati dan pandangan sepertinya berlaku sama. Sesungguhnya aku tak pernah ingin sama sekali untuk menyentuhmu, bukan hakku. Kau pasti paham itu. Aku sudah berprinsip tapi terlambat dan tak tahu rasa.

Cukup. Biarkan hati menerjemahkannya dan leluasa berkata. Namun tak akan terikat. Biarkan waktu yang menjawab. Biarkan tak apa. Kita teman yang baik. Dan aku suka itu :)

Kamis, 11 November 2010

Jangan Jadi Pendiam

Diam, karena kehabisan kata-kata. Diam, bukan berarti tidak peka. Diam, antara tidak mengerti dan mengerti. Diam, antara pilihan ya dan tidak. Diam, perilaku yang sunyi dan kriikkkk...krikk.....;p

Saya aslinya pendiam. Tapi nggak sampai pendiam banget. Ada saatnya saya diam, ada saatnya saya 'menggila'. Sesuai sikon gituh. Saya pendiam, karena tak ingin banyak omong, takut salah dan menyakiti hati orang lain bahkan tak tahu yang harus saya ucapkan. Jadi, saya memilih diam dan menjadi pendengar yang baik.

Banyak teman saya yang pendiam di muka tapi asyik sekali setelah mengenalnya. Mereka rupanya rajin menghemat kata-kata dan mewujudkannya dalam untaian kata di diary. Jujur, saya menjadi gila ketika bertemu dengan teman-teman 'gila' juga. Konyol-konyolan pun terjadi. Saya sangat ekspresif dan tidak menjadi pendiam ketika ngomong dengan teman-teman lama yang cukup akrab. tersiksa sekali jika saya sudah diam, ingin berkata tapi kelu di lidah. Untung saja, setelah itu saya hantamkan kata-kata itu ke dalam ketikan di komp atau di diary. Setidaknya saya tak ingin jadi pendiam dalam hal mengungkapkan pendapat selama saya rasa itu benar dan dapat dibaca sama orang yang kita tujukan.

Suatu saat saya bisa tak pintar berargumen dan memilih diam. Itu bukan pilihan rasanya. Pernah kakak kelas nanya, waktu itu saya lagi makan.
"Kenapa sih cewek itu makannya pelan gituh?"
saya yang lagi makan, jawab seadanya, "karena gak sopan kak." Padahal banyak sekali argumen yang ingin aku sampaikan, saya tidak berani dan memilih kemudian diam.
"Cewek itu harus bisa mencontohkan yang baik buat semuanya. Apa kata dunia kalau dibilang cewek urakan? Ingat, cewek itu akan jadi ibu. Kalau dia aja makannnya masih amburadul gimana anak-anaknya? nggak jauh beda deh. Makanya itu, cewek itu harus mencontohkan yang baik. Wanita kalau akhlaknya nggak bener, negara inipun akan hancuur."

Saya harap, teman-teman saya yang pendiam, tidak menjadi pendiam seutuhnya.Dalam artian, pendiam di mulut bolehlah. Mungkin bingung berkata, mesti harus mengucapkan yang bagaimana ya? supaya tidak nyelekit di muka dan terlihat bodoh? Menulis. ya tulis apa yang ingin kamu katakan. Tidak heran toh, pendiam tapi pintar di mapel. Itu yang saya maksud, tidak menjadi pendiam seutuhnya. Kemudian, pendiam yang nyata kerjanya, tidak sediam orangnya. 

Jangan jadi pendiam...seutuhnya

Minggu, 31 Oktober 2010

Bagaimana Kau Mencatat Bencana?*


Bagaimana kalau mereka adik2 kita?
Pertama kali, saya hanya tahu bahwa di dunia ini hanyalah ada Bontang. Pemikiran yang sempit sekali. Namun sekolah membuka mata-mata saya lebar-lebar sampai mau lepas dari rongganya. Lebay ah. Tapi emang beneran kok. Sekolah memaksa saya menjadi orang pintar bukan menjadi orang dungu sedungu-dungunya.
        Sampai saya harus membuka mata melulu membaca semua yang terjadi di negeri ini. Kotak ajaib yang yang selalu mengediakan stok informasi terbaru pun kerap saya sambangi. Atau koran yang saya baca selepas pulang sekolah dengan cipratan makanan siang tentunya. Duuh, saya makin muuyeek dengan permasalahan  negeri saya yang terkenal yang paling banyak masalah. Menyandang gelar yang ter-...bla...bla...
        Negeri saya memang sangat kaya. Kaya sekali. Ingin rasanya bersombong diri ah tapi arti semua ini akan hancur ketika bersombong diri. Penduduk yang belum diberdayakan secara baik untuk kemajuan negeri. Negeri yang terkenal dengan senyum ramah yang disukai dunia internasional. Flora dan fauna yang beranekaragam. Hutan hujan tropis yang menyejukkan mata. Dan lain-lain. Ya Allah, Engkau memberiku surga:)
        Rasanya tak lengkap jika tak diberi secuil bencana. Ya, Allah menguji saya dan penduduk negeri ini dengan membuat bencana yang saling bersahut-sahut bak ayam berkokok tak keruan di pagi hari. Allah menguji, sudahkah hambaKu bersyukur? Atau terlena dan berhura-hura? Kemudian siling berganti dengan dentuman party berdarah yang menghentikan detak jantung negeri ini beberapa menit saja dari tangan lelaki berkabut. Membuat curiga dan menangkap orang yang dicuragai menjadi dalangnya. Membuat dunia internasional menjadi malas berkunjung ke Indonesia dan menuduh orang islam sebagai dalangnya. Cukup? Oh tidak. Kau ingat gelombang eksotis itu? yang menghantam tanpa ampun ke pesisir pantai negeri ini dan di papua. Yang menyapu bersih apa saja yang menghalangi. Ketika itu saya harus menutup mata dan menangis bukan untuk terakhir kalinya.
       Dua hari yang lalu, seharian aku tidak menonton TV sama sekali. Terjadi bencana gunung Merapi. Sedang malamnya saya membaca postingan 42 menit yang lalu di Yahoo! mengenai adanya tsunami di Pulau Mentawai. Bencana tersebut saya peroleh dari internet. Saya malas ke ruang keluarga, karena banyak pasien dan orang hilir mudik di situ sedang saya harus berjilbab keluar masuk kamar atau menutupi badan dengan handukXP atau berjalan ala ninja hattori:P
         Banyak yang hilang dan tewas di Pulau Mentawai. Sedang keadaan Merapi masih sibuk dengan aktivitas batuknya. Hingga Rabu di sekolah aku mendengar Gunung merapi meletus dan menyapu pedesaan di lereng gunung, 24 orang korban tewas. Huuufffhh. Hari itu aku begitu tidak bersemangat melihat asyiknya kelasku berdandan. Aku tidak mood. Pulang, mamak bilang mbah Maridjan tewas kena wedus gembel. Aku tersentak. Buru-buru setelah sholat zuhur, aku menjelajahi dunia maya mencari berita. Mbah Maridjan, 2 hari yang lalu saya baca di kaltim post. Dia keukeuhi tidak mengungsi. Keras kepala juga mbah roso-roso itu. Mbah juga rajin ke surau dekat rumahnya ketika di wawancarai. Tapi, sekarang aku mendengarnya telah terbujur kaku yang katanya tewas dalam keadaan bersujud. Selidik punya selidik, mbah tidak mau pergi karena beliau juru kunci merapi sejak 1982 yang dianugerahkan oleh Sultan Hamengkubuwono IX. Beliau menjalani tugasnya sampai tewas di tangan merapi. Oh mbah, semoga amalmu di terima Gusti Allah. Damai dipelukanNya. Ihiks
Selamat Jalan Mba;(

         Dalam pikiranku, seharusnya orang-orang yang rawan bencana tahu bagaimana profil tempat hidupnya. Sehingga tak perlu memakan korban yang begitu banyak begini. Apa susahnya sih melihat tanda-tanda alam dan segera menyelamatkan diri. Kalaupun tsunami segera manjat pohon atau berlari ke tempat yang lebih tinggi. Kalau di lereng gunung, pergi sejauh-jauhnya, berkilo-kilo meter jauhnya. Aku geregetan sekali. Ingin menarik mereka ketika bencana itu datang. Tapi aku siapa? Tuhan? Oh lucu sekali. Hanyalah Allah yang menyelamatkan dan punya tujuan terbaik di balik bencana itu.
         PrayForIndonesia… topic terending di twitter. Banyak yang berbelasungkawa terhadap Indonesia. Sampai artis-artis dunia terheran-heran dengan bencana di Indonesia yang datangnya keroyokan. Seperti katanya Jeremy Davis, gitaris Paramore, My heart goes out to Indonesia ...I can't imagine dealing with all that in 1 day.....? Hahaha, Mas Jeremy. Kau harus tahu, itulah Indonesia. Banyak bencana, banyak airmata. Hayley, Justin, John, Joe, dan lain-lain mengucapkan kata-kata belasungkawa juga.
       “Just woke up to the news about the disasters in Indonesia. Praying hard for all of you today. Keeping you in my thoughts” (Hayley Williams)

       “Thoughts and prayers with victims of Indonesia's earthquake/Tsunami...” (Sami Yusuf)

       All of a sudden i can't write. imagine the situation close to#Merapi and after the tsunami#Mentawai.#prayforindonesia, any help will do!” (Asma Nadia)

       “For those people who comment that prayers are useless, spec. no. 50, it might be good for you to know that prayers are speaking one's wish that people be free of suffering and its causes and have happiness and its causes. First we have a wish and formulate it in a prayer, then we help. So it is my prayer, i.e., my wish, that many people help the people of Indonesia as best as they possibly can. Thank you!” (Gabriele, Munich, Germany)

“Oh my God....my hear goes to all the victims and poor cattle....I am so hurt by this incident. May God bless us all. I wish we can turn everything right and theres peace for all. Love from India”(keshank)

“May they recover from this painful event, our heart goes out to the people in Indonesia.” (Brian, Malay)

“Hi I’m from Israel, God bless you and help you to get through this.” (Rotem)

I Feel sad for Indonesia. May their life come to normal :(“ (Shakeel Abbas from Pakistan)


         Terima kasih atas support kalian semua. Kami bangsa Indonesia merasa sangat dicintai. Meski saya  harus menelan pil kecewa membaca komennya ketua DPR.
         Aku tak bisa membayangkan bagaimana mumetnya Pak SBY. Pasti tidurnya berkurang lagi dari 6 jam. Kasihan sekali bapakku ini. Semoga bapak diberi semangat dan bisa mengatasi bencana ini dengan sigap.
         Bagaimana kau mencatat bencana? Apakah hanya kau jadikan hari duka dan menutupnya dengan cepat dari ingatan atau menjadikannya sebuah pelajaran di hari depan? Menjadi mental pemuda Indonesia yang tidak loyo dan malas. Karena jika kita malas, bencana itu senang sekali menghantam kanan kiri belakang depan pertahanan kita teman. Oke, saya sangat sadar. Bahwa saya masih menjadi pelajar yang payah yang masih harus dihajar. Intinya aku tak ingin Indonesia menangis lagi. Apapun keadaan Indonesia, aku tetap sayang Indonesia.
   

         Tuhan mungkin Kau abaikan 
      Tak ku dengarkan peringatan
      Kusakiti engkau sampai perut bumi
      Maafkan kami oh robbi 
       
     To Allah is our return:)

*)Puisi dari Abdurrahman Faiz




Rabu, 27 Oktober 2010

Bintoel Loe!

i don't like
         Sebagian orang tidak menyukai dipanggil dengan nama yang tidak disukainya. Bagi mereka, nama-nama yang dipanggilkan kepada mereka dirasa menghina. Ingat noh, perkataan Rasulullah, panggillah saudaramu dengan panggilan nama yang mereka sukai.
          “Mba Bin!”
Mba. Tiga kata ini wajar banget ditelinga kita. Itu artinya kakak perempuan dalam bahasa Indonesia. Teman-temanku banyak yang memanggil begitu. Pertama sih, cuek aja meski nggak suka. Aku kira ini hanya sementara. Buat bahan olok-olokan mungkin karena aku sering ceramahin mereka. Hehehe. Sampai salah satu guru TIK di sekolah SMPku ikut-ikutan manggil ‘mba’. Iih, apaan nih? Mereka berkomplotan. Saya tidak terima (gaya mencak-mencak). Selepas SMP, teman-teman se-SMP masih bawa nama itu. Jadilah, penularan ‘penyakit’ ini ke teman-teman baru, kakak kelas bahkan guru. Gondok banget nggak sih! Saya jadi males noleh hanya sekedar memenuhi panggilan mereka.
       Alasan mereka, aku dewasa dan calm down. Ahh itu hanya cara berpikir yang berbeda kok. Tidak seistimewa sampai mereka memanggil saya mba. Ketika saya dipanggil demikian, saya merasa mereka tidak menghargai saya meski mereka tidak bermaksud begitu. Saya merasa lebih dituakan, padahal saya dengan teman-temanku sebaya. Saya sudah senang dipanggil dengan nama ‘Binti’. Lebih merasa disayangi.
Bintoel, singkatannya Binti Mufidatul. Nama ini juga tak begitu aku sukai. Identik dengan kata bentoel-bentoel. Hahaha. Di gigit nyamuk. Atun, demikian juga. Dua panggilan ini sering juga jadi guyonan teman-teman OSIS. Aku sih mesem-mesem wae. Deuuh.
        Bahkan ada yang lebih parah. Ada teman yang dipanggil dengan, ‘ndut’, ‘bapet’, 'ucup', 'sipong'dan nama-nama lain diluar nama orang dipanggil. Bukan masalah marah tidaknya, tapi ini menyangkut doa yang terkandung dalam nama orang tersebut. Meski se-ndeso apapun kedengarannya, nama adalah kalimat doa yang teruntai dalam kata-kata yang melekat di diri kita sampai dewasa. Doa orangtua.
       Ya, nama saya Binti Mufidatul Jahro’. Sebenarnya Binti Mufidatuz Zahro, kesalahan di akte kelahiran. Ketika masih kecil, nama ini biasa saja, hanya sekedar nama. Tapi terasa ketika sudah besar begini, nama saya kok terasa aneh sih? Binti? Iih kok nama yang biasa dipake pas nikah sih. Yati binti Sule misalnya. Di kuburan juga rame nama saya. Di nisan-nisan ntuh. Menohok juga nih, katanya guru saya di sekolah, nama saya hanyalah gelar layaknya Haji. Jadi bukan nama. Whooaaa. Bisa dikata saya tak punya nama. Saya kira nama saya langka dan unique, ternyata tidak. Di jawa ada loh. Tahunya pas nonton tipi, ada pengusaha tasbih dari plastik daur ulang yang namanya sama dengan saya. Bangga sih. Eehh ternyata ada tetangga saya yang nama depannya sama, Binti Mai Saroh. Kami TK bareng, so nama absen saya setelah dia.
       Nah, yuk panggil teman kita dengan nama kesayangan mereka. Meskipun kita terlanjur memanggil dengan yang bukan namanya. Tapi tidak berarti jadi telanjur. Aku yakin kok, mereka akan ingat dan melakukan hal sama yang kita lakukan.
So, “Nama kesayanganmu apa?”

Selasa, 26 Oktober 2010

Airmata yang Murah

Huaaahhh. Hari ini aku berasa jadi murid paling payah—‘ . Tanya kenapa teman? Aku menangis termihik-mihik di lomba baca puisi antarkelas di sekolah. Ahh, jadi malu sama semua.
Puisi ini yang membuatku terbawa emosi:

Ayah Ibu
Terima kasih atas perhatianmu dan izinmu
Karena aku bisa sekolah di sini
SMA Negeri 1 Bontang

SMAN 1 Bontang
SMA yang katanya angker (hiiy..)
SMA yang katanya sekolah sibuk (elleh..)
SMA yang katanya paling keren (yaelah)
SMA yang katanya sstttt… sok tau!
SMA yang katanya SMA favorit
SMA yang katanya siswa siswinya ramah tamah
SMA yang katanya… katanya

Ah, tidak
Itukan katanya … katanya …
Apalah arti katanya
Terlalu beragam
Seberagam apa yang kutahu dari SMA ini

2 tahun sudah aku ‘berumah’ di sini
Mengekos dari pagi hingga siang
Membangun berupa-berupa ilmu dan wajah di sini
Setidaknya aku tak ingin pernah menyesal

Aku yakin, aku percaya
SMA ini salah satu impian Joni
Laki-laki tambun yang kutahu kisahnya dari TV
Laki-laki tambun yang tidak beruntung

Aku ingin membayar janjinya untuk tetap sekolah
Seperti mimpi Lintang yang dibayar Ikal
Seperti mimpimu yang akan kubayar
Dari sekian Joni-Joni sepertimu
Yang tersebar di negeri kayaku

Aku akan tetap berjuang!
Di sekolah SMA Negeri 1 Bontang ini yang katanya paling the best

Selamat Ulang Tahun SMANSA!
Selamat Hari Sumpah Pemuda!

            Seperti itulah puisiku. Lumayanlah hehee dari ukuran puisi dadakan bikinnya. Heuuhh.
                Haaaa, ini bukan yang pertama aku termihik-mihik di depan umum. Sudah 3 kali aku begitu. Pertama ketika aku baca doa di hari 17an, kedua ketika baca karangan di depan kelas (kelas IX), ketiga ketika perpisahan SMP, saya memberi sambutan. Seketika saya kehabisan kata-kata di depan publik dan terbawa emosi akan flashback gambaran masa-masa SMP lalu. Payah deh. Padahal kalau saya tidak menangis, saya bisa lebih baik lagi dan lebih menjiwai.
                Kali ini, penyebab saya termihik-mihik adalah Joni. Saya kenal dia ketika menonton acara TV, Ketika Aku Menjadi … dimana Joni ditanya apa yang ingin dia bahagiakan pada kedua orang tuanya? Dia jawab ingin sekolah lagi sambil mengelap airmatanya dengan tangannya. Dia sadar, sekolah akan mengubah nasib keluarganya yang miskin. Aduh, ncuss banget! Memang dia bukan satu-satunya yang mengalami putus sekolah di negeri ini, tapi sangat buaanyyakk. Tak bisa dihitung. Dan saya adalah sebagian anak-anak Indonesia yang sungguh beruntung, yang ditempatkan Allah di bumi Borneo tepatnya di Kota Bontang. Kota kecil yang bersih (dapat piala Adipura 3 kali), cukup modern, sekolah gratis, indah, kaya (karena ada dua perusahaan, PT Badak NGL dan PT Pupuk Kaltim), dan tidak sepadat kota besar di Jawa.
                “Aduh, bosannya sekolah!”
                Jadi malu nih. Seharusnya saya lebih semangat dan tak bosan. Bagaimana pun, sekolah selalu membuat kangen. Dari gurunya, teman-teman yang aneh, kocak, sampai nyeleneh. Semua selalu dikangeni ketika di rumah. Tapi namanya juga manusia … (oke oke)
kesal! mengapa saya gampang menangis beginong
                Kelemahan saya, selalu menangis ketika membaca puisi buatan sendiri. Kalau buatan orang lain, tidak. Inilah yang kutakutkan dari awal, dan terjadilaaaahhh. Kacau! Saya jadi tidak berani keluar kelas, takut muka saya terdeteksi dan mereka pun bisik-bisik tetangga. 
                         Saya menangis bukan karena ingin menarik simpati juri ataupun teman-teman. Tapi bener-beneer terbawa emosi dari puisi itu sendiri. Merasakan apa yang dirasakan oleh Joni yang sebaya denganku yang mesti putus sekolah. Jadi, maaf banget deh. Kalau njiji'i nangis di depan umum gitu, bukan mauku. Airmataku terlalu murah ternyata hahhaa. Maaf deh, jadi nggak tampil sempurna seperti kemauan teman-teman sekelas yang percaya sama saya. Karena saya malah nangis termihik-mihik. Alamakk!