Minggu, 31 Oktober 2010

Bagaimana Kau Mencatat Bencana?*


Bagaimana kalau mereka adik2 kita?
Pertama kali, saya hanya tahu bahwa di dunia ini hanyalah ada Bontang. Pemikiran yang sempit sekali. Namun sekolah membuka mata-mata saya lebar-lebar sampai mau lepas dari rongganya. Lebay ah. Tapi emang beneran kok. Sekolah memaksa saya menjadi orang pintar bukan menjadi orang dungu sedungu-dungunya.
        Sampai saya harus membuka mata melulu membaca semua yang terjadi di negeri ini. Kotak ajaib yang yang selalu mengediakan stok informasi terbaru pun kerap saya sambangi. Atau koran yang saya baca selepas pulang sekolah dengan cipratan makanan siang tentunya. Duuh, saya makin muuyeek dengan permasalahan  negeri saya yang terkenal yang paling banyak masalah. Menyandang gelar yang ter-...bla...bla...
        Negeri saya memang sangat kaya. Kaya sekali. Ingin rasanya bersombong diri ah tapi arti semua ini akan hancur ketika bersombong diri. Penduduk yang belum diberdayakan secara baik untuk kemajuan negeri. Negeri yang terkenal dengan senyum ramah yang disukai dunia internasional. Flora dan fauna yang beranekaragam. Hutan hujan tropis yang menyejukkan mata. Dan lain-lain. Ya Allah, Engkau memberiku surga:)
        Rasanya tak lengkap jika tak diberi secuil bencana. Ya, Allah menguji saya dan penduduk negeri ini dengan membuat bencana yang saling bersahut-sahut bak ayam berkokok tak keruan di pagi hari. Allah menguji, sudahkah hambaKu bersyukur? Atau terlena dan berhura-hura? Kemudian siling berganti dengan dentuman party berdarah yang menghentikan detak jantung negeri ini beberapa menit saja dari tangan lelaki berkabut. Membuat curiga dan menangkap orang yang dicuragai menjadi dalangnya. Membuat dunia internasional menjadi malas berkunjung ke Indonesia dan menuduh orang islam sebagai dalangnya. Cukup? Oh tidak. Kau ingat gelombang eksotis itu? yang menghantam tanpa ampun ke pesisir pantai negeri ini dan di papua. Yang menyapu bersih apa saja yang menghalangi. Ketika itu saya harus menutup mata dan menangis bukan untuk terakhir kalinya.
       Dua hari yang lalu, seharian aku tidak menonton TV sama sekali. Terjadi bencana gunung Merapi. Sedang malamnya saya membaca postingan 42 menit yang lalu di Yahoo! mengenai adanya tsunami di Pulau Mentawai. Bencana tersebut saya peroleh dari internet. Saya malas ke ruang keluarga, karena banyak pasien dan orang hilir mudik di situ sedang saya harus berjilbab keluar masuk kamar atau menutupi badan dengan handukXP atau berjalan ala ninja hattori:P
         Banyak yang hilang dan tewas di Pulau Mentawai. Sedang keadaan Merapi masih sibuk dengan aktivitas batuknya. Hingga Rabu di sekolah aku mendengar Gunung merapi meletus dan menyapu pedesaan di lereng gunung, 24 orang korban tewas. Huuufffhh. Hari itu aku begitu tidak bersemangat melihat asyiknya kelasku berdandan. Aku tidak mood. Pulang, mamak bilang mbah Maridjan tewas kena wedus gembel. Aku tersentak. Buru-buru setelah sholat zuhur, aku menjelajahi dunia maya mencari berita. Mbah Maridjan, 2 hari yang lalu saya baca di kaltim post. Dia keukeuhi tidak mengungsi. Keras kepala juga mbah roso-roso itu. Mbah juga rajin ke surau dekat rumahnya ketika di wawancarai. Tapi, sekarang aku mendengarnya telah terbujur kaku yang katanya tewas dalam keadaan bersujud. Selidik punya selidik, mbah tidak mau pergi karena beliau juru kunci merapi sejak 1982 yang dianugerahkan oleh Sultan Hamengkubuwono IX. Beliau menjalani tugasnya sampai tewas di tangan merapi. Oh mbah, semoga amalmu di terima Gusti Allah. Damai dipelukanNya. Ihiks
Selamat Jalan Mba;(

         Dalam pikiranku, seharusnya orang-orang yang rawan bencana tahu bagaimana profil tempat hidupnya. Sehingga tak perlu memakan korban yang begitu banyak begini. Apa susahnya sih melihat tanda-tanda alam dan segera menyelamatkan diri. Kalaupun tsunami segera manjat pohon atau berlari ke tempat yang lebih tinggi. Kalau di lereng gunung, pergi sejauh-jauhnya, berkilo-kilo meter jauhnya. Aku geregetan sekali. Ingin menarik mereka ketika bencana itu datang. Tapi aku siapa? Tuhan? Oh lucu sekali. Hanyalah Allah yang menyelamatkan dan punya tujuan terbaik di balik bencana itu.
         PrayForIndonesia… topic terending di twitter. Banyak yang berbelasungkawa terhadap Indonesia. Sampai artis-artis dunia terheran-heran dengan bencana di Indonesia yang datangnya keroyokan. Seperti katanya Jeremy Davis, gitaris Paramore, My heart goes out to Indonesia ...I can't imagine dealing with all that in 1 day.....? Hahaha, Mas Jeremy. Kau harus tahu, itulah Indonesia. Banyak bencana, banyak airmata. Hayley, Justin, John, Joe, dan lain-lain mengucapkan kata-kata belasungkawa juga.
       “Just woke up to the news about the disasters in Indonesia. Praying hard for all of you today. Keeping you in my thoughts” (Hayley Williams)

       “Thoughts and prayers with victims of Indonesia's earthquake/Tsunami...” (Sami Yusuf)

       All of a sudden i can't write. imagine the situation close to#Merapi and after the tsunami#Mentawai.#prayforindonesia, any help will do!” (Asma Nadia)

       “For those people who comment that prayers are useless, spec. no. 50, it might be good for you to know that prayers are speaking one's wish that people be free of suffering and its causes and have happiness and its causes. First we have a wish and formulate it in a prayer, then we help. So it is my prayer, i.e., my wish, that many people help the people of Indonesia as best as they possibly can. Thank you!” (Gabriele, Munich, Germany)

“Oh my God....my hear goes to all the victims and poor cattle....I am so hurt by this incident. May God bless us all. I wish we can turn everything right and theres peace for all. Love from India”(keshank)

“May they recover from this painful event, our heart goes out to the people in Indonesia.” (Brian, Malay)

“Hi I’m from Israel, God bless you and help you to get through this.” (Rotem)

I Feel sad for Indonesia. May their life come to normal :(“ (Shakeel Abbas from Pakistan)


         Terima kasih atas support kalian semua. Kami bangsa Indonesia merasa sangat dicintai. Meski saya  harus menelan pil kecewa membaca komennya ketua DPR.
         Aku tak bisa membayangkan bagaimana mumetnya Pak SBY. Pasti tidurnya berkurang lagi dari 6 jam. Kasihan sekali bapakku ini. Semoga bapak diberi semangat dan bisa mengatasi bencana ini dengan sigap.
         Bagaimana kau mencatat bencana? Apakah hanya kau jadikan hari duka dan menutupnya dengan cepat dari ingatan atau menjadikannya sebuah pelajaran di hari depan? Menjadi mental pemuda Indonesia yang tidak loyo dan malas. Karena jika kita malas, bencana itu senang sekali menghantam kanan kiri belakang depan pertahanan kita teman. Oke, saya sangat sadar. Bahwa saya masih menjadi pelajar yang payah yang masih harus dihajar. Intinya aku tak ingin Indonesia menangis lagi. Apapun keadaan Indonesia, aku tetap sayang Indonesia.
   

         Tuhan mungkin Kau abaikan 
      Tak ku dengarkan peringatan
      Kusakiti engkau sampai perut bumi
      Maafkan kami oh robbi 
       
     To Allah is our return:)

*)Puisi dari Abdurrahman Faiz




Rabu, 27 Oktober 2010

Bintoel Loe!

i don't like
         Sebagian orang tidak menyukai dipanggil dengan nama yang tidak disukainya. Bagi mereka, nama-nama yang dipanggilkan kepada mereka dirasa menghina. Ingat noh, perkataan Rasulullah, panggillah saudaramu dengan panggilan nama yang mereka sukai.
          “Mba Bin!”
Mba. Tiga kata ini wajar banget ditelinga kita. Itu artinya kakak perempuan dalam bahasa Indonesia. Teman-temanku banyak yang memanggil begitu. Pertama sih, cuek aja meski nggak suka. Aku kira ini hanya sementara. Buat bahan olok-olokan mungkin karena aku sering ceramahin mereka. Hehehe. Sampai salah satu guru TIK di sekolah SMPku ikut-ikutan manggil ‘mba’. Iih, apaan nih? Mereka berkomplotan. Saya tidak terima (gaya mencak-mencak). Selepas SMP, teman-teman se-SMP masih bawa nama itu. Jadilah, penularan ‘penyakit’ ini ke teman-teman baru, kakak kelas bahkan guru. Gondok banget nggak sih! Saya jadi males noleh hanya sekedar memenuhi panggilan mereka.
       Alasan mereka, aku dewasa dan calm down. Ahh itu hanya cara berpikir yang berbeda kok. Tidak seistimewa sampai mereka memanggil saya mba. Ketika saya dipanggil demikian, saya merasa mereka tidak menghargai saya meski mereka tidak bermaksud begitu. Saya merasa lebih dituakan, padahal saya dengan teman-temanku sebaya. Saya sudah senang dipanggil dengan nama ‘Binti’. Lebih merasa disayangi.
Bintoel, singkatannya Binti Mufidatul. Nama ini juga tak begitu aku sukai. Identik dengan kata bentoel-bentoel. Hahaha. Di gigit nyamuk. Atun, demikian juga. Dua panggilan ini sering juga jadi guyonan teman-teman OSIS. Aku sih mesem-mesem wae. Deuuh.
        Bahkan ada yang lebih parah. Ada teman yang dipanggil dengan, ‘ndut’, ‘bapet’, 'ucup', 'sipong'dan nama-nama lain diluar nama orang dipanggil. Bukan masalah marah tidaknya, tapi ini menyangkut doa yang terkandung dalam nama orang tersebut. Meski se-ndeso apapun kedengarannya, nama adalah kalimat doa yang teruntai dalam kata-kata yang melekat di diri kita sampai dewasa. Doa orangtua.
       Ya, nama saya Binti Mufidatul Jahro’. Sebenarnya Binti Mufidatuz Zahro, kesalahan di akte kelahiran. Ketika masih kecil, nama ini biasa saja, hanya sekedar nama. Tapi terasa ketika sudah besar begini, nama saya kok terasa aneh sih? Binti? Iih kok nama yang biasa dipake pas nikah sih. Yati binti Sule misalnya. Di kuburan juga rame nama saya. Di nisan-nisan ntuh. Menohok juga nih, katanya guru saya di sekolah, nama saya hanyalah gelar layaknya Haji. Jadi bukan nama. Whooaaa. Bisa dikata saya tak punya nama. Saya kira nama saya langka dan unique, ternyata tidak. Di jawa ada loh. Tahunya pas nonton tipi, ada pengusaha tasbih dari plastik daur ulang yang namanya sama dengan saya. Bangga sih. Eehh ternyata ada tetangga saya yang nama depannya sama, Binti Mai Saroh. Kami TK bareng, so nama absen saya setelah dia.
       Nah, yuk panggil teman kita dengan nama kesayangan mereka. Meskipun kita terlanjur memanggil dengan yang bukan namanya. Tapi tidak berarti jadi telanjur. Aku yakin kok, mereka akan ingat dan melakukan hal sama yang kita lakukan.
So, “Nama kesayanganmu apa?”

Selasa, 26 Oktober 2010

Airmata yang Murah

Huaaahhh. Hari ini aku berasa jadi murid paling payah—‘ . Tanya kenapa teman? Aku menangis termihik-mihik di lomba baca puisi antarkelas di sekolah. Ahh, jadi malu sama semua.
Puisi ini yang membuatku terbawa emosi:

Ayah Ibu
Terima kasih atas perhatianmu dan izinmu
Karena aku bisa sekolah di sini
SMA Negeri 1 Bontang

SMAN 1 Bontang
SMA yang katanya angker (hiiy..)
SMA yang katanya sekolah sibuk (elleh..)
SMA yang katanya paling keren (yaelah)
SMA yang katanya sstttt… sok tau!
SMA yang katanya SMA favorit
SMA yang katanya siswa siswinya ramah tamah
SMA yang katanya… katanya

Ah, tidak
Itukan katanya … katanya …
Apalah arti katanya
Terlalu beragam
Seberagam apa yang kutahu dari SMA ini

2 tahun sudah aku ‘berumah’ di sini
Mengekos dari pagi hingga siang
Membangun berupa-berupa ilmu dan wajah di sini
Setidaknya aku tak ingin pernah menyesal

Aku yakin, aku percaya
SMA ini salah satu impian Joni
Laki-laki tambun yang kutahu kisahnya dari TV
Laki-laki tambun yang tidak beruntung

Aku ingin membayar janjinya untuk tetap sekolah
Seperti mimpi Lintang yang dibayar Ikal
Seperti mimpimu yang akan kubayar
Dari sekian Joni-Joni sepertimu
Yang tersebar di negeri kayaku

Aku akan tetap berjuang!
Di sekolah SMA Negeri 1 Bontang ini yang katanya paling the best

Selamat Ulang Tahun SMANSA!
Selamat Hari Sumpah Pemuda!

            Seperti itulah puisiku. Lumayanlah hehee dari ukuran puisi dadakan bikinnya. Heuuhh.
                Haaaa, ini bukan yang pertama aku termihik-mihik di depan umum. Sudah 3 kali aku begitu. Pertama ketika aku baca doa di hari 17an, kedua ketika baca karangan di depan kelas (kelas IX), ketiga ketika perpisahan SMP, saya memberi sambutan. Seketika saya kehabisan kata-kata di depan publik dan terbawa emosi akan flashback gambaran masa-masa SMP lalu. Payah deh. Padahal kalau saya tidak menangis, saya bisa lebih baik lagi dan lebih menjiwai.
                Kali ini, penyebab saya termihik-mihik adalah Joni. Saya kenal dia ketika menonton acara TV, Ketika Aku Menjadi … dimana Joni ditanya apa yang ingin dia bahagiakan pada kedua orang tuanya? Dia jawab ingin sekolah lagi sambil mengelap airmatanya dengan tangannya. Dia sadar, sekolah akan mengubah nasib keluarganya yang miskin. Aduh, ncuss banget! Memang dia bukan satu-satunya yang mengalami putus sekolah di negeri ini, tapi sangat buaanyyakk. Tak bisa dihitung. Dan saya adalah sebagian anak-anak Indonesia yang sungguh beruntung, yang ditempatkan Allah di bumi Borneo tepatnya di Kota Bontang. Kota kecil yang bersih (dapat piala Adipura 3 kali), cukup modern, sekolah gratis, indah, kaya (karena ada dua perusahaan, PT Badak NGL dan PT Pupuk Kaltim), dan tidak sepadat kota besar di Jawa.
                “Aduh, bosannya sekolah!”
                Jadi malu nih. Seharusnya saya lebih semangat dan tak bosan. Bagaimana pun, sekolah selalu membuat kangen. Dari gurunya, teman-teman yang aneh, kocak, sampai nyeleneh. Semua selalu dikangeni ketika di rumah. Tapi namanya juga manusia … (oke oke)
kesal! mengapa saya gampang menangis beginong
                Kelemahan saya, selalu menangis ketika membaca puisi buatan sendiri. Kalau buatan orang lain, tidak. Inilah yang kutakutkan dari awal, dan terjadilaaaahhh. Kacau! Saya jadi tidak berani keluar kelas, takut muka saya terdeteksi dan mereka pun bisik-bisik tetangga. 
                         Saya menangis bukan karena ingin menarik simpati juri ataupun teman-teman. Tapi bener-beneer terbawa emosi dari puisi itu sendiri. Merasakan apa yang dirasakan oleh Joni yang sebaya denganku yang mesti putus sekolah. Jadi, maaf banget deh. Kalau njiji'i nangis di depan umum gitu, bukan mauku. Airmataku terlalu murah ternyata hahhaa. Maaf deh, jadi nggak tampil sempurna seperti kemauan teman-teman sekelas yang percaya sama saya. Karena saya malah nangis termihik-mihik. Alamakk!


Minggu, 24 Oktober 2010

Bahasa Orang Pintar

Hati-hati terjebak
Setiap kelas di sekolah pasti punya saingan dalam berprestasi. Dan sialnya, saya tidak sepintar dulu. Bisa dikata di bawah pintar. Aahh, saya bisa merasakan bagaimana cara berpikirnya orang-orang seperti saya ini.

Minggu-minggu bulan Oktober ini, saya menjumpai ulangan mid dengan kemampuan saya yang apa adanya. Malam harinya saya mengulang mata pelajaran berturut-turut selama satu minggu. Setidaknya saya yang kelas XI ini masih beruntung daripada adik-adik kelas yang di berondong 13 mata pelajaran yang harus di ulangkan selama 1 pekan ini. Syukur^

Nah, mengenai judul yang saya tulis di atas. Ternyata saya yang di bawah pintar ini dan cukup pendiam, kadang terpacu untuk menjadi pintar seperti teman-teman saya yang dominan di kelas. Mengikuti bagaimana mereka belajar, mendengar, atau sekedar berbicara. Pernah suatu ketika, teman saya yang pintar tidak belajar untuk ulangan. Saya yang notabenenya mengikuti seperti sapi di cucuk idungnya ini akhirnya mengikuti. sampai tragedi memilukan terjadi. saya remedi dan dia tidak!!!! oh tidak. payah sekaleeee. Kelas serasa runtuh menimpa badan saya! Akh ini tidak adil noh! Kami sama2 tidak belajar kan?!
Oia, bahasa orang pintar ya... mnusuk2 di akhir ending.

Akhirnya saya tobat. Tak mau menjadi sapi lagi~.~

Pernah suatu pagi setelah ulgn mid smester, ada jadwal mapel fisika. Bu Yuli lagi sibuk bercengkerama dengan laptopnya tersuayang. Aku, Femy, dan Agnes, ngerjain soal2 fisika buat latihan ulangan. Aku yang bodoh-bodohan ini kebingungan dan nanya Agnes.
"Gimana caranya ini, Nes?"
"Aduh, aku juga bingung."
"Lha, Agnes kebingungan sambil nulis jawabannya tuh." kata Femy.
Gedeebruaakkkk!!

Aha, itu dia! saya dapatkan lagi bahasa orang pintar. Tak lain dari Agnes yang nilainya fisikanya 7 sedang saya? mengenaskan. heuks.

Ngees. Ncuuss menusuk-nusuk. Saya mesti berhati-hati dengan bahasa orang2 pintar di sekitar saya. Terkadang mereka berendah diri.
"Aku belum belajar. Tadi malam cuma nonton tipi." Padahaaall kemarin udah belajar.
"Aku malas! Mungkin nanti remedi." Kita-kita yang biasa-biasa aja mengamini dan senang dapat teman remedi. Nyatanya? Setelah hasil keluar dia tidak remedi. Aah, gondok ah!

Lain hal dengan orang yang sotak-sotak berhadiah. Mereka mnyembunyikan ketidakmampuan dengan pura-pura mengerti dan taaarrrraaaa .... hasilnya sama dengan sotak-sotak berhadiah.Dan mulai sekarang saya mesti pasang telinga baik2, jangan2 ada bahasa-bahasa orang pintar yang akan kujumpai lagi. Bahasa yang begitu merendah dan polos tapi efeknya sangat mematikan untuk orang yg seperti saya ini. Waspadalah, waspadalah! *muka serreemm

Jumat, 15 Oktober 2010

ABG! Not ugly duck edition


You will not need to afraid
You handsome or pretty
For me, you have it:)

                Teman, setiap aku merasa takut terhadap salah satu dari kalian. Aku dengan cepat mengalihkan pikiran dan pandangan, mengimajinasikan wajah kalian dalam balutan masa kecil, wajah polos kalian. Dan itu sanggup melupakan ketakutanku sejenak. Hahaa contohnya ketika MOS SMA, soalnya aku sudah kegemetaran.  Wew!
                Tapi aku kira wajahmu kini berbeda dari dulu. Jika dulu polos dan lucu, sekarang berubah dan tampak muka dewasa yang mengagumkan. Rahang yang yang jelas, badan yang tegak dan aduhai, rambut dengan gaya baru, sorot mata teduh yang sanggup membuat penggemar kalian kelepek-kelepek8p.
                Bicara soal penggemar or fans, seringkali kalian tak menyadari kehadiran mereka. Mereka bisa bersembunyi di rangkaian kejadian hari-harimu, mengintip dengan rasa malu atau mata-mata lain yang melirik ke arahmu bahkan berani caper!
                Terkadang tak pelak bagi kalian yang biasa saja, merasa tidak berarti kemudian putus asa melihat kanan kiri telah punya ‘gandengan’. Ada yang bersikap wajar namun ada juga yang berlebih dengan berubah menjadi lebih heboh demi menarik perhatian. Tapi aku sadari banyak cara orang yang ingin diakui bahwa dia ada dan berhak di akui.
Namun sepertinya tak perlu dengan mengubah imej diri sepenuhnya  sehingga menjadi orang lain.  Dan itu demi mendapat perhatian orang yang baik bahkan yang nggak. Sungguh, bagiku ada orang lain yang senantiasa mengamatimu, membayangkan dalam mimpinya, dan menerimamu apa adanya. Apapun dirimu, sungguh, kamu adalah cantik dan cakep. Buktinya, orang yang jelek tapi punya pacar, orang yang rame dengan tampang biasa saja punya pacar, orang yang cantik atau ganteng punya pacar. Weits! Kalau yang nggak punya pacar, tenang, ada penggemarmu kok. Tapi aku yakin kau konsisten dengan prinsipmu tak pacaran. Good!
Jadi, jangan sedih. Jika kamu di lihat dari berbagai angle, gayamu oke, sikapmu tegas, sifatmu menyenangkan, dan tak membosankan. Jika kamu menyadarinya… Kalian itu cantik dan cakep. Jadi jangan heran jika kalian suka lama-lama menatap diri di kaca atau bernarsis ria dengan hp kameramu. Itu wajar. Dan bagiku.. kalian cantik dan cakep. Tidak ada pengecualian.
Hahahaha mungkin aku bisa naksir cowok semuanya (rakus bener8p). Dan mandang anak cewek itu cantik semua. Lha wong kalian kan pada cantik dan cakep. Kalau dilihat lama-lama itu dan di-zoom besar-besar. Hehe. Bukankah tiap orang mempunyai keunikan dan khas masing-masing? 
Mau bukti yang lain, guys? Emmm…nomor liar yang sering mampir di hapemu itu darimana ya? Apa sekedar salah alamat atau pengin kenalan ya? Heheh. Iyakan? Walau hanya sekedar say hello and ask your name, itu udah buat jantung kalian terpacu lebih cepat, keringetan, memikir si nomor misterius, sampai nggak makan en nggak mandi. Weessss… gaswat itu ya, hehe
But, pengen lebih dari sekedar indah di pandang mata, enaknya lagi jika menghiasinya dengan hati yang cantik en cakep juga yah! inner beauty gitu itu loh! Makin klop deh kayak TOP
Kawan, maaf neh kalau nyinggung. Ini hanya sekedar motivasi dan pikiran yang harus aku curahkan buat pelajaran aku dan kalian juga. Keep spirit, guys!

Kamis, 14 Oktober 2010

Save some memories?

Tuhan bolehkah saya memohon
Saya ingin sekali balik ke masa lalu
Mengulang sikapku yang begitu menyedihkan

                Hey, aku tak tahu apa yang aku ingin katakan padamu wahai kawan? Terima kasih, kata yang terlukis sempurna dari bibirku kepada semua. Allah, berdebar hatiku mengingat kenangan itu, menyegarkan sekaligus menyesakkan dada. Keikhlasan berbagi, tertawa, tangis, serta semangat yang tak henti. Aku tahu kau selalu di sampingku Allah. Sehingga aku yakin aku bisa menang hadapi keadaan.
                Kini aku sudah meninggalkan bangku SMP. Meninggalkan apa yang kutabung demi cita-cita kelak. Aku tak pernah mendapatkan piala apapun, aku mengkerut dan begitu menyedihkan. Sering menyindir diri dan memaki. Sungguh tak menghargai diri! Cukup dihargai dan diakui aku sudah senang. Buktinya aku tetap di kelas terbaik dan disayang teman. Dan aku rasa, sikap lembut dan rasionalku berasal dari gen gagah ayahku. Hahaha
                Tapi bukan aku jika tak pernah down mengkhianati keadaan dan waktu. Masa SD adalah masa yang kelam yang penuh bisa mematikan. Betapa tidak kawan? Aku pencemburu berat. Hahai, bukan dengan lawan jenis tapi dengan guru. Sejak kelas 1 SD aku sudah termasuk murid yang berpikir dewasa.
“Bagaimana cara baca ini, mak? Hurufnya terlalu panjang.”
“Cara pengurangan ini bagaimana yah? Oh kalau kebanyakan angka, pakai jari kaki saja. Biar nggak kelihatan tapi aku bisa pakai imajinasi bahkan seraya menggerakkan kaki di balik sepatu.” Ketika kelas 1.
“Kata Mamak, aku dapat peringkat 2 di kelas. Dan itu bagus. Berarti aku harus dapat peringkat 1.” Ketika pembagian rapot kelas 1 caturwulan 1.
“Ngapain kelahian. Nggak ada gunanya!” Ketika teman-teman pada berantem nggak jelas pake ngolok segala.
Di lain itu, aku senang sekali bertemu dengan guru-guru yang mengajariku selama di SD. Bagiku, mereka adalah motivasi terbesar di sekolah. Tapi semenjak mereka mulai meragukan kemampuanku karena suatu kejadian, aku yang masih kecil dan jarang berbuat onar menjadi benci. Mereka terkadang membeda-bedakan satu murid dengan murid yang lain. Misalnya ada teman yang di kasih tugas bantu guru tersebut, dan itu seringkali. Itu membuat kami yang lain bertanya-tanya, mengapa bukan kami? Kemudian ketika di suruh maju ke depan, kebanyakan yang sudah pintar, sedang yang tidak bisa duduk diam. Padahal ingin sekali maju. Aku tak berani mengacungkan tangan.
Guru-guru yang berwajah baik pun berubah tak berwarna baik di pandanganku. Mereka sama saja! Tapi ada satu guru yang sangat aku sayangi, beliau di mata teman-teman sangat kejam karena sering membuat pertanyaan banyak sekali kemudian membuat kami agar buka buku dan bacalah. Padahal pada waktu itu kami tidak terlalu suka baca. Sejak saat itu aku mencoba sebelum tidur membaca buku entah buku apapun itu. Setelah itu aku bisa merasakan nikmatnya membaca, aku mulai bisa baca watak beliau, aku juga bisa mendapatkan satu-satunya nilai bagus di kelas. Karena aku bisa mendapati nyawa dari mata bidang pelajaran ini, IPS! Membaca itu, membuka pikiranku. Buku IPS kelas 4 yang tebal banget, kubuka kembali dan kubaca. Sungguh mengasyikkan mengarungi setiap lembaran kata-kata di dalamnya.
Dan hanya guru itu, guru favoritku!
Dan sekarang aku tak mengerti mengapa aku bisa sebenci itu dengan guru-guru yang lain yang menjadi guru mata pelajaranku. Perasaan… biasa saja loh. Dasar anak emosional!8p
Masa SD yang kuhitung 6 tahun. Bah, sangat lama dan membosankan! Teman itu-itu saja, dan kelas A mulu. Tapi masa SD itu juga masa penuh kenangan dan penuh jiwa kepemimpinan. Karena kelas 2 aku jadi ketua kelas, kelas 3 aku jadi wakil ketua kelas, kelas 4 jadi ketua kelas, dan kelas 6 jadi ketua kelas.
                Dan masa SMP... masa yang sekedipan mata namun penuh rasa persahabatan. Masa persahabatan di dalam taksi contohnya. Hahha bersesak ria sambil bercanda sepanjang perjalanan pulang. Di kelas 7, mungkin adaptasi dengan lingkungan sekolah SMP, di kelas 8, perjuangan mempertahankan kelas yang menjadi ruang lab.bahasa dan harus rela pindah ke lab.sains. Suka duka aku rasakan sebagai anak kelas 8 . Kelas 9, aku di daulat menjadi ketua kelas, tak mudah bagiku menghadapi teman-teman yang hampir menderita ‘sindrom UAN’, demikian aku menyebutnya. Tapi disinilah masa pengakhiran, masa penuh tawa bersama, masa penuh cobaan sana sini, dari yang kasus masuk ruang BP, masa dimarahi orang tua murid karena aku tidak sengaja menghilangkan kunci motornya Astrid, dan masa menghadapi teman-teman yang mempunyai kualitas yang tinggi, pandai bersilat lidah dan pintar akademik. Semua aku nikmati dari berbagai sudut dari berbagai keunikan teman-teman dan ceritanya.
                Hey, kawan. Dari berbagai kejadian yang telah terjadi, tak lengkap rasanya jika tak diabadikan, bukan? Yup, sampai-sampai file foto di komputerku banyak banget. Hahaahaha..segitukah berharganya kenangan? Bagiku, kenangan selalu menyediakan cerita yang menarik dan mengajak sejenak memutar kenangan ke waktu dulu yang senantiasa membuat pelajaran hidup menjadi tak murah.

Karena kepribadian dan prinsipnya!


Banyak yang bertanya mengapa aku suka asma nadia?
“Karena kepribadian dan prinsipnya!”
Pertama kali lihat sosoknya dari album FLP di rumah cahaya Bontang. Asma pernah datang ke Bontang lho! ihiiy. Tapi aku masih kelas 1 SD, sekitar tahun 2000. Aku penasaran dan segera mencari bukunya di toko Ensiklopedia. Membeli karyanya meski satu dua, kemudian kubaca. Aku merasakan ilmu baru tentang islam dan pemahamannya. Sampai sekarang, aku sudah mengumpulkan koleksi bukunya  lebih dari 20 buah buku. Banyak ya! hehe
Aku tertarik dengan cara berbusananya yang menarik dan remaja banget meski aku tahu usianya tidak remaja lagi. Tapi dia tetap cantik dan bersahaja. Jadinya aku mulai mencoba memakai pakaian sepertinya dia. Pertama make, wess banyak bilang aku mirip dengannya. Geer!!! Tapi setelah agak lama, aku juga risih aku jadi mirip dia tapi itu bukan diriku! Apalagi warna-warna yang aku pakai terlalu terang, kalau buat dia sih oke kulitnya kan putih. Aku? Sawo matang boi. Waahhh..nyala banget kan! heedeehh
Nggak lama ini aku juga dapat foto dia ketika SMA. Ya Allah dia imut and Chinese banget (gemes mode on).  Dia yang pakai kerudung sendiri. Padahal dulu kan nggak banyak yang jual kerudung, paling-paling yang polos gede atau selendang dililit di leher. wiihh aku kagum! Karena dia aja yang pakai jilbab lebar dibanding yang lain yang sama sekali nggak jilbab-an. Kemudian foto dengan keluarganya, maminya memang baik namun nggak pakai jilbab, mungkin kalau dia tak punya prinsip kuat, dia tak akan berjilbab karena maminya tidak memaksa pakai jilbab. Tapi dia? Subahanallah. kakaknya, HTR juga berjilbab seperti dia. Ya Allah, dia pegang prinsip yang oke banget di mata ku. Dia berbeda, dia tetap teguh. Padahal baru selepas kelas 3 SMP dia pakai jilbab. Dia sudah berani menjaga kesuciannya dengan tidak bersentuhan kulit dengan laki-laki. Heemmm… aku bahkan membuat edisi binder asma nadia! Pernah suatu hari di sekolah, aku masih kelas IX SMP. Ada temanku si A yang mengejek Asma Nadia, pertama aku masih sabar, nggak aku ladenin. Eeeh malah menjadi-menjadi ngejeknya. Dengan sekuat tenaga, dari pojok kelas, aku lempar stip-x dengan gagahnya ke arah si A. Aku benar-benar marah! teman-temanku yang melihat kejadianku itu seketika terperangah melihat wajahku yang memerah garang. Berbeda denganku yang selalu tenang dan kalem. Yaaa, meski nggak kena si A. Minimal mereka tahu, jangan sekali-kali ngejek Asma Nadia kalau mereka nggak tahu apa-apa! Well, aku tahu kalau si A itu suka Bondan, tapi dia tega banget ngejek Asma yang dia aja nggak tahu apa-apa kecuali baca binderku. Padahal aku nggak pernah ngejelekin Bondan di hadapan dia. Ckkckckckkk!
Tapi wajar kalau sekarang Asma agak berubah, sekarang lebih sering tampil dengan busana warna yang riang. Dia ingin ngubah imej muslimah yang kesannya nyebelin, nggak bisa padu padankan busana, nggak bisa akrab ma cowok alias jadi muslimah nyebelin harus dihindari demi citra muslimah yang adem (dikupas abis di bukunya Jangan Jadi Muslimah Nyebelin).
Selebihnya, dia sayang banget ma anak-anak. Dia pengertian sekali. Jarang marah dan asyik jadi tempat curhat. Allah, aku menangis jika mengingat kehangatannya sebagai bunda pada dua anaknya. Dia juga selalu bisa mengekspresikan rasa cintanya dengan baik dan mempesona. Dia selalu berusaha hadir di setiap acara anaknya dan menangis jika jauh dari anak-anak. Dia sangat mengerti anak-anak. I want have a mother like her.
Jadi, jangan pertanyaan lagi mengapa aku begitu mengaguminya. Idolaku ini, tak pernah membuat perasaan cintaku berubah padanya. Jika pertama kali melihat seseorang yang menarik dan ingin aku ikuti, pasti aja ada sifat jeleknya yang bikin aku lamban laun meninggalkannya. Tapi dia? Tidak. Karena Asma selalu melengkapi setiap lembar yang kosong dalam hidupku. Mengajariku untuk bisa mengekspresikan kata cinta dan sayang, mencintai Allah dan RasulNya, membahagiakan orang tua dengan cara sendiri, mengasihi orang-orang yang kurang beruntung, menulis kisah kita dalam dunia kata-kata, belajar mencintai buku, membangkitkan semangat bermimpi keliling dunia, berbusana yang baik dan menarik bagi seorang muslimah tapi tetap syar’i. 
Asma, I want like you later. Asma, I love you. Wish one day we can meet. Love you!

Jumat, 08 Oktober 2010

Sami Yusuf - Healing




 Aaahh saya suka sekali dengan lagu nii!! Selalu saya setel ketika lagi murung karena selalu disuruh-suruh alias dimintai pertolongan selalu merasa berat. Seketika merasa diingatkan, "Let's start healing!"

Healing, a simple act of kindness brings such meaning
A Smile can change a life let’s start believing

Oh Allah, maafkan hamba-Mu ini. Kawan, maafkan aku juga