![]() |
| Bagaimana kalau mereka adik2 kita? |
Pertama kali, saya hanya tahu bahwa di dunia ini hanyalah ada Bontang. Pemikiran yang sempit sekali. Namun sekolah membuka mata-mata saya lebar-lebar sampai mau lepas dari rongganya. Lebay ah. Tapi emang beneran kok. Sekolah memaksa saya menjadi orang pintar bukan menjadi orang dungu sedungu-dungunya.
Sampai saya harus membuka mata melulu membaca semua yang terjadi di negeri ini. Kotak ajaib yang yang selalu mengediakan stok informasi terbaru pun kerap saya sambangi. Atau koran yang saya baca selepas pulang sekolah dengan cipratan makanan siang tentunya. Duuh, saya makin muuyeek dengan permasalahan negeri saya yang terkenal yang paling banyak masalah. Menyandang gelar yang ter-...bla...bla...
Negeri saya memang sangat kaya. Kaya sekali. Ingin rasanya bersombong diri ah tapi arti semua ini akan hancur ketika bersombong diri. Penduduk yang belum diberdayakan secara baik untuk kemajuan negeri. Negeri yang terkenal dengan senyum ramah yang disukai dunia internasional. Flora dan fauna yang beranekaragam. Hutan hujan tropis yang menyejukkan mata. Dan lain-lain. Ya Allah, Engkau memberiku surga:)
Rasanya tak lengkap jika tak diberi secuil bencana. Ya, Allah menguji saya dan penduduk negeri ini dengan membuat bencana yang saling bersahut-sahut bak ayam berkokok tak keruan di pagi hari. Allah menguji, sudahkah hambaKu bersyukur? Atau terlena dan berhura-hura? Kemudian siling berganti dengan dentuman party berdarah yang menghentikan detak jantung negeri ini beberapa menit saja dari tangan lelaki berkabut. Membuat curiga dan menangkap orang yang dicuragai menjadi dalangnya. Membuat dunia internasional menjadi malas berkunjung ke Indonesia dan menuduh orang islam sebagai dalangnya. Cukup? Oh tidak. Kau ingat gelombang eksotis itu? yang menghantam tanpa ampun ke pesisir pantai negeri ini dan di papua. Yang menyapu bersih apa saja yang menghalangi. Ketika itu saya harus menutup mata dan menangis bukan untuk terakhir kalinya.
Sampai saya harus membuka mata melulu membaca semua yang terjadi di negeri ini. Kotak ajaib yang yang selalu mengediakan stok informasi terbaru pun kerap saya sambangi. Atau koran yang saya baca selepas pulang sekolah dengan cipratan makanan siang tentunya. Duuh, saya makin muuyeek dengan permasalahan negeri saya yang terkenal yang paling banyak masalah. Menyandang gelar yang ter-...bla...bla...
Negeri saya memang sangat kaya. Kaya sekali. Ingin rasanya bersombong diri ah tapi arti semua ini akan hancur ketika bersombong diri. Penduduk yang belum diberdayakan secara baik untuk kemajuan negeri. Negeri yang terkenal dengan senyum ramah yang disukai dunia internasional. Flora dan fauna yang beranekaragam. Hutan hujan tropis yang menyejukkan mata. Dan lain-lain. Ya Allah, Engkau memberiku surga:)
Rasanya tak lengkap jika tak diberi secuil bencana. Ya, Allah menguji saya dan penduduk negeri ini dengan membuat bencana yang saling bersahut-sahut bak ayam berkokok tak keruan di pagi hari. Allah menguji, sudahkah hambaKu bersyukur? Atau terlena dan berhura-hura? Kemudian siling berganti dengan dentuman party berdarah yang menghentikan detak jantung negeri ini beberapa menit saja dari tangan lelaki berkabut. Membuat curiga dan menangkap orang yang dicuragai menjadi dalangnya. Membuat dunia internasional menjadi malas berkunjung ke Indonesia dan menuduh orang islam sebagai dalangnya. Cukup? Oh tidak. Kau ingat gelombang eksotis itu? yang menghantam tanpa ampun ke pesisir pantai negeri ini dan di papua. Yang menyapu bersih apa saja yang menghalangi. Ketika itu saya harus menutup mata dan menangis bukan untuk terakhir kalinya.
Dua hari yang lalu, seharian aku tidak menonton TV sama sekali. Terjadi bencana gunung Merapi. Sedang malamnya saya membaca postingan 42 menit yang lalu di Yahoo! mengenai adanya tsunami di Pulau Mentawai. Bencana tersebut saya peroleh dari internet. Saya malas ke ruang keluarga, karena banyak pasien dan orang hilir mudik di situ sedang saya harus berjilbab keluar masuk kamar atau menutupi badan dengan handukXP atau berjalan ala ninja hattori:P
Banyak yang hilang dan tewas di Pulau Mentawai. Sedang keadaan Merapi masih sibuk dengan aktivitas batuknya. Hingga Rabu di sekolah aku mendengar Gunung merapi meletus dan menyapu pedesaan di lereng gunung, 24 orang korban tewas. Huuufffhh. Hari itu aku begitu tidak bersemangat melihat asyiknya kelasku berdandan. Aku tidak mood. Pulang, mamak bilang mbah Maridjan tewas kena wedus gembel. Aku tersentak. Buru-buru setelah sholat zuhur, aku menjelajahi dunia maya mencari berita. Mbah Maridjan, 2 hari yang lalu saya baca di kaltim post. Dia keukeuhi tidak mengungsi. Keras kepala juga mbah roso-roso itu. Mbah juga rajin ke surau dekat rumahnya ketika di wawancarai. Tapi, sekarang aku mendengarnya telah terbujur kaku yang katanya tewas dalam keadaan bersujud. Selidik punya selidik, mbah tidak mau pergi karena beliau juru kunci merapi sejak 1982 yang dianugerahkan oleh Sultan Hamengkubuwono IX. Beliau menjalani tugasnya sampai tewas di tangan merapi. Oh mbah, semoga amalmu di terima Gusti Allah. Damai dipelukanNya. Ihiks
![]() |
| Selamat Jalan Mba;( |
Dalam pikiranku, seharusnya orang-orang yang rawan bencana tahu bagaimana profil tempat hidupnya. Sehingga tak perlu memakan korban yang begitu banyak begini. Apa susahnya sih melihat tanda-tanda alam dan segera menyelamatkan diri. Kalaupun tsunami segera manjat pohon atau berlari ke tempat yang lebih tinggi. Kalau di lereng gunung, pergi sejauh-jauhnya, berkilo-kilo meter jauhnya. Aku geregetan sekali. Ingin menarik mereka ketika bencana itu datang. Tapi aku siapa? Tuhan? Oh lucu sekali. Hanyalah Allah yang menyelamatkan dan punya tujuan terbaik di balik bencana itu.
PrayForIndonesia… topic terending di twitter. Banyak yang berbelasungkawa terhadap Indonesia. Sampai artis-artis dunia terheran-heran dengan bencana di Indonesia yang datangnya keroyokan. Seperti katanya Jeremy Davis, gitaris Paramore, My heart goes out to Indonesia ...I can't imagine dealing with all that in 1 day.....? Hahaha, Mas Jeremy. Kau harus tahu, itulah Indonesia. Banyak bencana, banyak airmata. Hayley, Justin, John, Joe, dan lain-lain mengucapkan kata-kata belasungkawa juga.
“Just woke up to the news about the disasters in Indonesia. Praying hard for all of you today. Keeping you in my thoughts” (Hayley Williams)
“Thoughts and prayers with victims of Indonesia's earthquake/Tsunami...” (Sami Yusuf)
“All of a sudden i can't write. imagine the situation close to#Merapi and after the tsunami#Mentawai.#prayforindonesia, any help will do!” (Asma Nadia)
“For those people who comment that prayers are useless, spec. no. 50, it might be good for you to know that prayers are speaking one's wish that people be free of suffering and its causes and have happiness and its causes. First we have a wish and formulate it in a prayer, then we help. So it is my prayer, i.e., my wish, that many people help the people of Indonesia as best as they possibly can. Thank you!” (Gabriele, Munich, Germany)
“Oh my God....my hear goes to all the victims and poor cattle....I am so hurt by this incident. May God bless us all. I wish we can turn everything right and theres peace for all. Love from India”(keshank)
“May they recover from this painful event, our heart goes out to the people in Indonesia.” (Brian, Malay)
“Hi I’m from Israel, God bless you and help you to get through this.” (Rotem)
“I Feel sad for Indonesia. May their life come to normal :(“ (Shakeel Abbas from Pakistan)
Terima kasih atas support kalian semua. Kami bangsa Indonesia merasa sangat dicintai. Meski saya harus menelan pil kecewa membaca komennya ketua DPR.
Aku tak bisa membayangkan bagaimana mumetnya Pak SBY. Pasti tidurnya berkurang lagi dari 6 jam. Kasihan sekali bapakku ini. Semoga bapak diberi semangat dan bisa mengatasi bencana ini dengan sigap.
Bagaimana kau mencatat bencana? Apakah hanya kau jadikan hari duka dan menutupnya dengan cepat dari ingatan atau menjadikannya sebuah pelajaran di hari depan? Menjadi mental pemuda Indonesia yang tidak loyo dan malas. Karena jika kita malas, bencana itu senang sekali menghantam kanan kiri belakang depan pertahanan kita teman. Oke, saya sangat sadar. Bahwa saya masih menjadi pelajar yang payah yang masih harus dihajar. Intinya aku tak ingin Indonesia menangis lagi. Apapun keadaan Indonesia, aku tetap sayang Indonesia.
Tuhan mungkin Kau abaikan
Tak ku dengarkan peringatan
Kusakiti engkau sampai perut bumi
Maafkan kami oh robbi
Kusakiti engkau sampai perut bumi
Maafkan kami oh robbi
To Allah is our return:)
*)Puisi dari Abdurrahman Faiz


