Kamis, 18 November 2010

Menyukaimu...Sebenar 7 x 7 = 49 :)

But you was leaving me to soon
I'm missing your sillohuette all the time
Please don't be in love with someone else
Don't have somebody waiting on you?

Kenapa setiap aku melihat wajahku sendiri. Aku teringat suatu penyesalan. Aku salah kirim. Hmmmm

Bermula dari mengetahui nomor-nomor yang asing dan baru bagiku waktu itu. Aku pun tak sungkan bertanya ttg sesutau yang tak kumengerti. Dan terjawab. Bahagia membuncah. Aku bisa ngomong meski cenderung maya.

Kemudian keadaan yang mempertemukan dua manusia Allah. Aku biasa menghadapinya. Tapi ini membuatku malu karena aku tak berhasil. Dan ternyata seseorang telah menjelma dan tampak kejam di terpaan abu dan perakan api malam.

Malam semakin menggila. Udara menciut beberapa derajat. Aku bertarung dengan malam diantara intipan makhluk tak kasat mata. Bulan besar bentuk sabit terus menemani perjalanan malam, semakin tinggi di cakrawala langit. Hingga aku mencapai akhir dari kegelapan malam sunyi.

Di uji. Di puji. Lantunan suara dari mereka sedang kamu, mati sementara, berbadan kurus, terbaring terpejam. Aku pun menyangka. "Kau ini kebangetan ya." ohh begitu tingkahnya

Matahari menggantikan pekerjaan Bulan. Mata merah ingin terkatup namun gagal demi dengar ilmu. Aku bagai kelelawar tidur, terpejam namun jg terjaga. Dan kamu berperihal sama denganku.

Perut bernyanyi-nyanyi, tapi telah terisi. Kini kamupun berbeda juga. Aku menatap dan miris. Mondar-mandir sibuk meneliti keadaan. hey, kenapa? Kau tak malu?

Saatnya berbaring, menurut mata, dan terbang menjauh dr dunia nyata. Saat yang kusukai. Semua sudut bisa aku amati, tingkahmu yang unik itu. Kau tak malu? hmm giliranku sekarang. Kubaringkan kepala, menatap langit dan mati sementara.

Pagi! Hey, kau tetap di situ? oh ya, kau nyenyak dan tak peduli. Kau disitu, bangunlah. Kau terbangun. Lucu sekali kau! Polos! Kulihat dari jauh, jauh dari jangkauan tanganku.

Waktu melangkah dengan tegap dan tegar. Yang lain, mengalir lancar bicara yang amat maya. Biasa dan biasa. Namun kagum rupanya terus menjangkiti tubuhku. Kau ternyata begitu. Banyak yang kau ukir prestasi dengan kata dan lisan cerdasmu.

Aku tak berani memandang. Aku takut setan beraksi. Aku tak berani memandangmu.

Lirik-lirik dan salah tingkah pun berlaku. Ingin kata meluncur dengan nyata di hadapanmu. Tapi dayaku terbatas ketika sudah di hadapanmu. Tahu akan suatu hal tentangmu, memacuku untuk melakukan lebih baik sepertimu.

Seperti terjadi waktu itu. Kamu duduk tepat di seberang, tepat menghadapku diantara kerumunan kawan-kawanmu. Ow! Kenapa kau ada di situ? Mengganggu saja, rengutku sambil mengunyah es batu dan berlaku biasa. Tak bisa aku hindari, mataku rabun. Kau tertawa, senyum pun terseret. Aku ingin lihat senyum itu. Tidak bisa.

Dan kita pernah berlaku sama, makanya kata itu terperintah begitu saja. Begitu banyak tanya yang aku sampaikan. Kau memang lebih baik dariku.

Rasa merah jambu itu menjerat. Aku tak mau menjerat. Bodoh sekali! Kita kan teman, jadi bukan hakku untuk mengada-ngada. Aku tak mau begitu.

Jaga hati dan pandangan sepertinya berlaku sama. Sesungguhnya aku tak pernah ingin sama sekali untuk menyentuhmu, bukan hakku. Kau pasti paham itu. Aku sudah berprinsip tapi terlambat dan tak tahu rasa.

Cukup. Biarkan hati menerjemahkannya dan leluasa berkata. Namun tak akan terikat. Biarkan waktu yang menjawab. Biarkan tak apa. Kita teman yang baik. Dan aku suka itu :)