| Hati-hati terjebak |
Setiap kelas di sekolah pasti punya saingan dalam berprestasi. Dan sialnya, saya tidak sepintar dulu. Bisa dikata di bawah pintar. Aahh, saya bisa merasakan bagaimana cara berpikirnya orang-orang seperti saya ini.
Minggu-minggu bulan Oktober ini, saya menjumpai ulangan mid dengan kemampuan saya yang apa adanya. Malam harinya saya mengulang mata pelajaran berturut-turut selama satu minggu. Setidaknya saya yang kelas XI ini masih beruntung daripada adik-adik kelas yang di berondong 13 mata pelajaran yang harus di ulangkan selama 1 pekan ini. Syukur^
Nah, mengenai judul yang saya tulis di atas. Ternyata saya yang di bawah pintar ini dan cukup pendiam, kadang terpacu untuk menjadi pintar seperti teman-teman saya yang dominan di kelas. Mengikuti bagaimana mereka belajar, mendengar, atau sekedar berbicara. Pernah suatu ketika, teman saya yang pintar tidak belajar untuk ulangan. Saya yang notabenenya mengikuti seperti sapi di cucuk idungnya ini akhirnya mengikuti. sampai tragedi memilukan terjadi. saya remedi dan dia tidak!!!! oh tidak. payah sekaleeee. Kelas serasa runtuh menimpa badan saya! Akh ini tidak adil noh! Kami sama2 tidak belajar kan?!
Oia, bahasa orang pintar ya... mnusuk2 di akhir ending.
Akhirnya saya tobat. Tak mau menjadi sapi lagi~.~
Pernah suatu pagi setelah ulgn mid smester, ada jadwal mapel fisika. Bu Yuli lagi sibuk bercengkerama dengan laptopnya tersuayang. Aku, Femy, dan Agnes, ngerjain soal2 fisika buat latihan ulangan. Aku yang bodoh-bodohan ini kebingungan dan nanya Agnes.
"Gimana caranya ini, Nes?"
"Aduh, aku juga bingung."
"Lha, Agnes kebingungan sambil nulis jawabannya tuh." kata Femy.
Gedeebruaakkkk!!
Aha, itu dia! saya dapatkan lagi bahasa orang pintar. Tak lain dari Agnes yang nilainya fisikanya 7 sedang saya? mengenaskan. heuks.
Ngees. Ncuuss menusuk-nusuk. Saya mesti berhati-hati dengan bahasa orang2 pintar di sekitar saya. Terkadang mereka berendah diri.
"Aku belum belajar. Tadi malam cuma nonton tipi." Padahaaall kemarin udah belajar.
"Aku malas! Mungkin nanti remedi." Kita-kita yang biasa-biasa aja mengamini dan senang dapat teman remedi. Nyatanya? Setelah hasil keluar dia tidak remedi. Aah, gondok ah!
Lain hal dengan orang yang sotak-sotak berhadiah. Mereka mnyembunyikan ketidakmampuan dengan pura-pura mengerti dan taaarrrraaaa .... hasilnya sama dengan sotak-sotak berhadiah.Dan mulai sekarang saya mesti pasang telinga baik2, jangan2 ada bahasa-bahasa orang pintar yang akan kujumpai lagi. Bahasa yang begitu merendah dan polos tapi efeknya sangat mematikan untuk orang yg seperti saya ini. Waspadalah, waspadalah! *muka serreemm