Banyak yang bertanya mengapa aku suka asma nadia?
“Karena kepribadian dan prinsipnya!”
Pertama kali lihat sosoknya dari album FLP di rumah cahaya Bontang. Asma pernah datang ke Bontang lho! ihiiy. Tapi aku masih kelas 1 SD, sekitar tahun 2000. Aku penasaran dan segera mencari bukunya di toko Ensiklopedia. Membeli karyanya meski satu dua, kemudian kubaca. Aku merasakan ilmu baru tentang islam dan pemahamannya. Sampai sekarang, aku sudah mengumpulkan koleksi bukunya lebih dari 20 buah buku. Banyak ya! hehe
Aku tertarik dengan cara berbusananya yang menarik dan remaja banget meski aku tahu usianya tidak remaja lagi. Tapi dia tetap cantik dan bersahaja. Jadinya aku mulai mencoba memakai pakaian sepertinya dia. Pertama make, wess banyak bilang aku mirip dengannya. Geer!!! Tapi setelah agak lama, aku juga risih aku jadi mirip dia tapi itu bukan diriku! Apalagi warna-warna yang aku pakai terlalu terang, kalau buat dia sih oke kulitnya kan putih. Aku? Sawo matang boi. Waahhh..nyala banget kan! heedeehh
Nggak lama ini aku juga dapat foto dia ketika SMA. Ya Allah dia imut and Chinese banget (gemes mode on). Dia yang pakai kerudung sendiri. Padahal dulu kan nggak banyak yang jual kerudung, paling-paling yang polos gede atau selendang dililit di leher. wiihh aku kagum! Karena dia aja yang pakai jilbab lebar dibanding yang lain yang sama sekali nggak jilbab-an. Kemudian foto dengan keluarganya, maminya memang baik namun nggak pakai jilbab, mungkin kalau dia tak punya prinsip kuat, dia tak akan berjilbab karena maminya tidak memaksa pakai jilbab. Tapi dia? Subahanallah. kakaknya, HTR juga berjilbab seperti dia. Ya Allah, dia pegang prinsip yang oke banget di mata ku. Dia berbeda, dia tetap teguh. Padahal baru selepas kelas 3 SMP dia pakai jilbab. Dia sudah berani menjaga kesuciannya dengan tidak bersentuhan kulit dengan laki-laki. Heemmm… aku bahkan membuat edisi binder asma nadia! Pernah suatu hari di sekolah, aku masih kelas IX SMP. Ada temanku si A yang mengejek Asma Nadia, pertama aku masih sabar, nggak aku ladenin. Eeeh malah menjadi-menjadi ngejeknya. Dengan sekuat tenaga, dari pojok kelas, aku lempar stip-x dengan gagahnya ke arah si A. Aku benar-benar marah! teman-temanku yang melihat kejadianku itu seketika terperangah melihat wajahku yang memerah garang. Berbeda denganku yang selalu tenang dan kalem. Yaaa, meski nggak kena si A. Minimal mereka tahu, jangan sekali-kali ngejek Asma Nadia kalau mereka nggak tahu apa-apa! Well, aku tahu kalau si A itu suka Bondan, tapi dia tega banget ngejek Asma yang dia aja nggak tahu apa-apa kecuali baca binderku. Padahal aku nggak pernah ngejelekin Bondan di hadapan dia. Ckkckckckkk!
Tapi wajar kalau sekarang Asma agak berubah, sekarang lebih sering tampil dengan busana warna yang riang. Dia ingin ngubah imej muslimah yang kesannya nyebelin, nggak bisa padu padankan busana, nggak bisa akrab ma cowok alias jadi muslimah nyebelin harus dihindari demi citra muslimah yang adem (dikupas abis di bukunya Jangan Jadi Muslimah Nyebelin).
Selebihnya, dia sayang banget ma anak-anak. Dia pengertian sekali. Jarang marah dan asyik jadi tempat curhat. Allah, aku menangis jika mengingat kehangatannya sebagai bunda pada dua anaknya. Dia juga selalu bisa mengekspresikan rasa cintanya dengan baik dan mempesona. Dia selalu berusaha hadir di setiap acara anaknya dan menangis jika jauh dari anak-anak. Dia sangat mengerti anak-anak. I want have a mother like her.
Jadi, jangan pertanyaan lagi mengapa aku begitu mengaguminya. Idolaku ini, tak pernah membuat perasaan cintaku berubah padanya. Jika pertama kali melihat seseorang yang menarik dan ingin aku ikuti, pasti aja ada sifat jeleknya yang bikin aku lamban laun meninggalkannya. Tapi dia? Tidak. Karena Asma selalu melengkapi setiap lembar yang kosong dalam hidupku. Mengajariku untuk bisa mengekspresikan kata cinta dan sayang, mencintai Allah dan RasulNya, membahagiakan orang tua dengan cara sendiri, mengasihi orang-orang yang kurang beruntung, menulis kisah kita dalam dunia kata-kata, belajar mencintai buku, membangkitkan semangat bermimpi keliling dunia, berbusana yang baik dan menarik bagi seorang muslimah tapi tetap syar’i.
Asma, I want like you later. Asma, I love you. Wish one day we can meet. Love you!