![]() |
| i don't like |
“Mba Bin!”
Mba. Tiga kata ini wajar banget ditelinga kita. Itu artinya kakak perempuan dalam bahasa Indonesia. Teman-temanku banyak yang memanggil begitu. Pertama sih, cuek aja meski nggak suka. Aku kira ini hanya sementara. Buat bahan olok-olokan mungkin karena aku sering ceramahin mereka. Hehehe. Sampai salah satu guru TIK di sekolah SMPku ikut-ikutan manggil ‘mba’. Iih, apaan nih? Mereka berkomplotan. Saya tidak terima (gaya mencak-mencak). Selepas SMP, teman-teman se-SMP masih bawa nama itu. Jadilah, penularan ‘penyakit’ ini ke teman-teman baru, kakak kelas bahkan guru. Gondok banget nggak sih! Saya jadi males noleh hanya sekedar memenuhi panggilan mereka.
Alasan mereka, aku dewasa dan calm down. Ahh itu hanya cara berpikir yang berbeda kok. Tidak seistimewa sampai mereka memanggil saya mba. Ketika saya dipanggil demikian, saya merasa mereka tidak menghargai saya meski mereka tidak bermaksud begitu. Saya merasa lebih dituakan, padahal saya dengan teman-temanku sebaya. Saya sudah senang dipanggil dengan nama ‘Binti’. Lebih merasa disayangi.
Bintoel, singkatannya Binti Mufidatul. Nama ini juga tak begitu aku sukai. Identik dengan kata bentoel-bentoel. Hahaha. Di gigit nyamuk. Atun, demikian juga. Dua panggilan ini sering juga jadi guyonan teman-teman OSIS. Aku sih mesem-mesem wae. Deuuh.
Bahkan ada yang lebih parah. Ada teman yang dipanggil dengan, ‘ndut’, ‘bapet’, 'ucup', 'sipong'dan nama-nama lain diluar nama orang dipanggil. Bukan masalah marah tidaknya, tapi ini menyangkut doa yang terkandung dalam nama orang tersebut. Meski se-ndeso apapun kedengarannya, nama adalah kalimat doa yang teruntai dalam kata-kata yang melekat di diri kita sampai dewasa. Doa orangtua.
Ya, nama saya Binti Mufidatul Jahro’. Sebenarnya Binti Mufidatuz Zahro, kesalahan di akte kelahiran. Ketika masih kecil, nama ini biasa saja, hanya sekedar nama. Tapi terasa ketika sudah besar begini, nama saya kok terasa aneh sih? Binti? Iih kok nama yang biasa dipake pas nikah sih. Yati binti Sule misalnya. Di kuburan juga rame nama saya. Di nisan-nisan ntuh. Menohok juga nih, katanya guru saya di sekolah, nama saya hanyalah gelar layaknya Haji. Jadi bukan nama. Whooaaa. Bisa dikata saya tak punya nama. Saya kira nama saya langka dan unique, ternyata tidak. Di jawa ada loh. Tahunya pas nonton tipi, ada pengusaha tasbih dari plastik daur ulang yang namanya sama dengan saya. Bangga sih. Eehh ternyata ada tetangga saya yang nama depannya sama, Binti Mai Saroh. Kami TK bareng, so nama absen saya setelah dia.
Nah, yuk panggil teman kita dengan nama kesayangan mereka. Meskipun kita terlanjur memanggil dengan yang bukan namanya. Tapi tidak berarti jadi telanjur. Aku yakin kok, mereka akan ingat dan melakukan hal sama yang kita lakukan.
So, “Nama kesayanganmu apa?”
