Tuhan bolehkah saya memohon
Saya ingin sekali balik ke masa lalu
Mengulang sikapku yang begitu menyedihkan
Hey, aku tak tahu apa yang aku ingin katakan padamu wahai kawan? Terima kasih, kata yang terlukis sempurna dari bibirku kepada semua. Allah, berdebar hatiku mengingat kenangan itu, menyegarkan sekaligus menyesakkan dada. Keikhlasan berbagi, tertawa, tangis, serta semangat yang tak henti. Aku tahu kau selalu di sampingku Allah. Sehingga aku yakin aku bisa menang hadapi keadaan.
Kini aku sudah meninggalkan bangku SMP. Meninggalkan apa yang kutabung demi cita-cita kelak. Aku tak pernah mendapatkan piala apapun, aku mengkerut dan begitu menyedihkan. Sering menyindir diri dan memaki. Sungguh tak menghargai diri! Cukup dihargai dan diakui aku sudah senang. Buktinya aku tetap di kelas terbaik dan disayang teman. Dan aku rasa, sikap lembut dan rasionalku berasal dari gen gagah ayahku. Hahaha
Tapi bukan aku jika tak pernah down mengkhianati keadaan dan waktu. Masa SD adalah masa yang kelam yang penuh bisa mematikan. Betapa tidak kawan? Aku pencemburu berat. Hahai, bukan dengan lawan jenis tapi dengan guru. Sejak kelas 1 SD aku sudah termasuk murid yang berpikir dewasa.
“Bagaimana cara baca ini, mak? Hurufnya terlalu panjang.”
“Cara pengurangan ini bagaimana yah? Oh kalau kebanyakan angka, pakai jari kaki saja. Biar nggak kelihatan tapi aku bisa pakai imajinasi bahkan seraya menggerakkan kaki di balik sepatu.” Ketika kelas 1.
“Kata Mamak, aku dapat peringkat 2 di kelas. Dan itu bagus. Berarti aku harus dapat peringkat 1.” Ketika pembagian rapot kelas 1 caturwulan 1.
“Ngapain kelahian. Nggak ada gunanya!” Ketika teman-teman pada berantem nggak jelas pake ngolok segala.
Di lain itu, aku senang sekali bertemu dengan guru-guru yang mengajariku selama di SD. Bagiku, mereka adalah motivasi terbesar di sekolah. Tapi semenjak mereka mulai meragukan kemampuanku karena suatu kejadian, aku yang masih kecil dan jarang berbuat onar menjadi benci. Mereka terkadang membeda-bedakan satu murid dengan murid yang lain. Misalnya ada teman yang di kasih tugas bantu guru tersebut, dan itu seringkali. Itu membuat kami yang lain bertanya-tanya, mengapa bukan kami? Kemudian ketika di suruh maju ke depan, kebanyakan yang sudah pintar, sedang yang tidak bisa duduk diam. Padahal ingin sekali maju. Aku tak berani mengacungkan tangan.
Guru-guru yang berwajah baik pun berubah tak berwarna baik di pandanganku. Mereka sama saja! Tapi ada satu guru yang sangat aku sayangi, beliau di mata teman-teman sangat kejam karena sering membuat pertanyaan banyak sekali kemudian membuat kami agar buka buku dan bacalah. Padahal pada waktu itu kami tidak terlalu suka baca. Sejak saat itu aku mencoba sebelum tidur membaca buku entah buku apapun itu. Setelah itu aku bisa merasakan nikmatnya membaca, aku mulai bisa baca watak beliau, aku juga bisa mendapatkan satu-satunya nilai bagus di kelas. Karena aku bisa mendapati nyawa dari mata bidang pelajaran ini, IPS! Membaca itu, membuka pikiranku. Buku IPS kelas 4 yang tebal banget, kubuka kembali dan kubaca. Sungguh mengasyikkan mengarungi setiap lembaran kata-kata di dalamnya.
Dan hanya guru itu, guru favoritku!
Dan sekarang aku tak mengerti mengapa aku bisa sebenci itu dengan guru-guru yang lain yang menjadi guru mata pelajaranku. Perasaan… biasa saja loh. Dasar anak emosional!8p
Masa SD yang kuhitung 6 tahun. Bah, sangat lama dan membosankan! Teman itu-itu saja, dan kelas A mulu. Tapi masa SD itu juga masa penuh kenangan dan penuh jiwa kepemimpinan. Karena kelas 2 aku jadi ketua kelas, kelas 3 aku jadi wakil ketua kelas, kelas 4 jadi ketua kelas, dan kelas 6 jadi ketua kelas.
Dan masa SMP... masa yang sekedipan mata namun penuh rasa persahabatan. Masa persahabatan di dalam taksi contohnya. Hahha bersesak ria sambil bercanda sepanjang perjalanan pulang. Di kelas 7, mungkin adaptasi dengan lingkungan sekolah SMP, di kelas 8, perjuangan mempertahankan kelas yang menjadi ruang lab.bahasa dan harus rela pindah ke lab.sains. Suka duka aku rasakan sebagai anak kelas 8 . Kelas 9, aku di daulat menjadi ketua kelas, tak mudah bagiku menghadapi teman-teman yang hampir menderita ‘sindrom UAN’, demikian aku menyebutnya. Tapi disinilah masa pengakhiran, masa penuh tawa bersama, masa penuh cobaan sana sini, dari yang kasus masuk ruang BP, masa dimarahi orang tua murid karena aku tidak sengaja menghilangkan kunci motornya Astrid, dan masa menghadapi teman-teman yang mempunyai kualitas yang tinggi, pandai bersilat lidah dan pintar akademik. Semua aku nikmati dari berbagai sudut dari berbagai keunikan teman-teman dan ceritanya.
Hey, kawan. Dari berbagai kejadian yang telah terjadi, tak lengkap rasanya jika tak diabadikan, bukan? Yup, sampai-sampai file foto di komputerku banyak banget. Hahaahaha..segitukah berharganya kenangan? Bagiku, kenangan selalu menyediakan cerita yang menarik dan mengajak sejenak memutar kenangan ke waktu dulu yang senantiasa membuat pelajaran hidup menjadi tak murah.