Selasa, 26 Oktober 2010

Airmata yang Murah

Huaaahhh. Hari ini aku berasa jadi murid paling payah—‘ . Tanya kenapa teman? Aku menangis termihik-mihik di lomba baca puisi antarkelas di sekolah. Ahh, jadi malu sama semua.
Puisi ini yang membuatku terbawa emosi:

Ayah Ibu
Terima kasih atas perhatianmu dan izinmu
Karena aku bisa sekolah di sini
SMA Negeri 1 Bontang

SMAN 1 Bontang
SMA yang katanya angker (hiiy..)
SMA yang katanya sekolah sibuk (elleh..)
SMA yang katanya paling keren (yaelah)
SMA yang katanya sstttt… sok tau!
SMA yang katanya SMA favorit
SMA yang katanya siswa siswinya ramah tamah
SMA yang katanya… katanya

Ah, tidak
Itukan katanya … katanya …
Apalah arti katanya
Terlalu beragam
Seberagam apa yang kutahu dari SMA ini

2 tahun sudah aku ‘berumah’ di sini
Mengekos dari pagi hingga siang
Membangun berupa-berupa ilmu dan wajah di sini
Setidaknya aku tak ingin pernah menyesal

Aku yakin, aku percaya
SMA ini salah satu impian Joni
Laki-laki tambun yang kutahu kisahnya dari TV
Laki-laki tambun yang tidak beruntung

Aku ingin membayar janjinya untuk tetap sekolah
Seperti mimpi Lintang yang dibayar Ikal
Seperti mimpimu yang akan kubayar
Dari sekian Joni-Joni sepertimu
Yang tersebar di negeri kayaku

Aku akan tetap berjuang!
Di sekolah SMA Negeri 1 Bontang ini yang katanya paling the best

Selamat Ulang Tahun SMANSA!
Selamat Hari Sumpah Pemuda!

            Seperti itulah puisiku. Lumayanlah hehee dari ukuran puisi dadakan bikinnya. Heuuhh.
                Haaaa, ini bukan yang pertama aku termihik-mihik di depan umum. Sudah 3 kali aku begitu. Pertama ketika aku baca doa di hari 17an, kedua ketika baca karangan di depan kelas (kelas IX), ketiga ketika perpisahan SMP, saya memberi sambutan. Seketika saya kehabisan kata-kata di depan publik dan terbawa emosi akan flashback gambaran masa-masa SMP lalu. Payah deh. Padahal kalau saya tidak menangis, saya bisa lebih baik lagi dan lebih menjiwai.
                Kali ini, penyebab saya termihik-mihik adalah Joni. Saya kenal dia ketika menonton acara TV, Ketika Aku Menjadi … dimana Joni ditanya apa yang ingin dia bahagiakan pada kedua orang tuanya? Dia jawab ingin sekolah lagi sambil mengelap airmatanya dengan tangannya. Dia sadar, sekolah akan mengubah nasib keluarganya yang miskin. Aduh, ncuss banget! Memang dia bukan satu-satunya yang mengalami putus sekolah di negeri ini, tapi sangat buaanyyakk. Tak bisa dihitung. Dan saya adalah sebagian anak-anak Indonesia yang sungguh beruntung, yang ditempatkan Allah di bumi Borneo tepatnya di Kota Bontang. Kota kecil yang bersih (dapat piala Adipura 3 kali), cukup modern, sekolah gratis, indah, kaya (karena ada dua perusahaan, PT Badak NGL dan PT Pupuk Kaltim), dan tidak sepadat kota besar di Jawa.
                “Aduh, bosannya sekolah!”
                Jadi malu nih. Seharusnya saya lebih semangat dan tak bosan. Bagaimana pun, sekolah selalu membuat kangen. Dari gurunya, teman-teman yang aneh, kocak, sampai nyeleneh. Semua selalu dikangeni ketika di rumah. Tapi namanya juga manusia … (oke oke)
kesal! mengapa saya gampang menangis beginong
                Kelemahan saya, selalu menangis ketika membaca puisi buatan sendiri. Kalau buatan orang lain, tidak. Inilah yang kutakutkan dari awal, dan terjadilaaaahhh. Kacau! Saya jadi tidak berani keluar kelas, takut muka saya terdeteksi dan mereka pun bisik-bisik tetangga. 
                         Saya menangis bukan karena ingin menarik simpati juri ataupun teman-teman. Tapi bener-beneer terbawa emosi dari puisi itu sendiri. Merasakan apa yang dirasakan oleh Joni yang sebaya denganku yang mesti putus sekolah. Jadi, maaf banget deh. Kalau njiji'i nangis di depan umum gitu, bukan mauku. Airmataku terlalu murah ternyata hahhaa. Maaf deh, jadi nggak tampil sempurna seperti kemauan teman-teman sekelas yang percaya sama saya. Karena saya malah nangis termihik-mihik. Alamakk!